Pengalaman Mendaftar Universitas di Swedia (2)


Biaya merupakan salah satu tantangan terbesar saya untuk
malanjutkan pendidikan master di luar negeri.
Untuk mengatasinya saya mencoba untuk mengajukan
permohonan beasiswa ke universitas dan pada kasus
kali ini ditambah dengan beasiswa dari Swedish Institute.

Post kali ini akan bercerita tentang perjalanan
saya dalam apply application di Universitas Swedia
pada tahun 2012.

Sesuai dengan post yang sebelumnya, deadline
untuk pengumpulan dokumen pelengkap adalah tanggal
1 Februari 2012.
Sedangkan menurut perhitungan saya, paling cepat
hasil dari IELTS keluar pada tanggal 25 Januari 2012.
Belum lagi mengurus dokumen lain seperti surat
keterangan akan lulus, transkrip nilai, surat rekomendasi,
dan letter of intent.

Karena fokus untuk IELTS, saya belum sempat untuk mengurus
dokumen-dokumen tersebut. Ditambah lagi dengan persiapan
tim untuk presentasi dan pameran di acara yang sangat
bergengsi bagi wirausaha muda di Indonesia –
Wirausaha Muda Mandiri dan Mandiri Young Technopreneur
pada tanggal 16-19 Januari 2012.

Beruntung tim kami dapat masuk final nasional
pada Mandiri Young Technopreneur 2011. Saya sangat senang
berada diantara orang-orang hebat yang dengan senangnya
berbagi pengalaman hidup dan perjuangan mereka.

Bertepatan dengan tanggal 16 Januari, ada juga deadline
scholarship yang disediakan oleh masing-masing universitas.
Biasanya beasiswa ini mencakup tuition fee reduction,
ada yang berkisar 75% sampai dengan 100%!
Kebetulan kedua universitas yang ingin saya tuju,
Chalmers University of Technology dan Uppsala University,
menyediakan scholarship tersebut.
Untuk Chalmers, saya apply Avancez Scholarship yang menyediakan
75% tuition fee reduction, akan ada 40 orang penerima beasiswa ini.
Sedangkan untuk Uppsala, saya mencoba Uppsala University IPK scholarships,
dengan 100% tuition fee reduction dan 16 orang penerima.

Proses apply-nya sangat mudah, hanya mengisi form
tentang data dan motivational letter untuk mendapatkan beasiswa.
Walaupun belum pasti mengirimkan dokumen, mengingat TRF IELTS belum
keluar, saya tetap mengirimkan application untuk kedua
beasiswa tersebut.

 

TRF IELTS dan Dokumen Lain Terlambat Keluar

Sepulang speaking test tanggal 13 Januari 2012, saya konfirmasi
mengenai waktu TRF IELTS dapat diambil, petugas di IDP Bandung
mengatakan TRF tersebut dapat diambil 13 hari
setelah hari pertama test (12 Januari), berarti
sekitar tanggal 25 Januari TRF dapat diambil
dan saya dapat langsung mengirimkan dokumen pelengkap
ke Universityadmission di Swedia dengan asumsi
pengiriman memakan waktu 3-4 hari.

Dokumen tersebut harus dikirim dalam bentuk hard copy.
Kita dapat mengirimkan fotocopy dari dokumen tersebut.
Sekali dokumen dikirim, maka tidak akan dikembalikan,
jadi hindari mengirimkan dokumen asli saat mendaftar
universitas di Swedia. Namun, kita perlu membawa
dokumen asli tersebut saat daftar ulang di universitas
yang kita tuju nantinya.

Tanggal 25 Januari, jam 10 pagi, saya menelpon IDP Bandung,
namun sayang dokumen yang dinantikan belum ada.
Petugas IDP memberi kemungkinan bahwa TRF dapat
diambil pada hari Jum’at 27 Januari.

Hal ini berdampak pada pergeseran timeline yang telah
saya rencanakan. Belum lagi, surat keterangan akan lulus
belum dikeluarkan oleh fakultas. Memang di timeline saya
memberi spare waktu paling lambat waktu pengiriman
adalah tanggal 27 Januari. Telat satu hari saja
dapat dipastikan dokumen akan telat sampai di Arlanda Airport.

Bayangkan saja, H-2 sebelum deadline, dokumen-dokumen penting
yang saya butuhkan belum terlengkapi.

 

Mendaftar di Detik Terakhir

Jum’at 27 Januari 2012, merupakan hari yang sangat berkesan
dan menentukan dalam perjalanan hidup saya.

09.00 WIB
Saya langsung menelpon IDP Bandung untuk
menanyakan TRF IELTS. Alhamdulillah, petugas IDP
memberikan kabar untuk mengambil TRF mulai pukul 11.00

Setelah mendengar kabar tersebut, saya langsung
searching di Internet mengenai jasa pengiriman
paket yang cepat dan murah dari Indonesia-Swedia.
Dari beberapa kandidat, akhirnya saya memutuskan
untuk menggunakan DHL, setelah masuk ke website DHL
saya langsung mencari alamat DHL di Jakarta beserta
jam buka kantor cabang tersebut.

Mengapa Jakarta? Karena setelah saya amati,
jika mengirim dokumen dari Bandung, maka
dokumen tersebut akan dikumpulkan dulu di Bandung,
dikirimkan ke Jakarta, baru dikirim ke tempat tujuan.
Proses ini dapat menambah waktu satu hari, yang
tentunya tidak saya inginkan. Akhirnya
saya memutuskan untuk memotong proses tersebut
dan langsung mengantarnya ke DHL Jakarta.

Saya berusaha mencari kantor pusat DHL di Jakarta,
untungnya kantor tersebut-seingat saya- buka
selama 24 Jam! Namun ada hal yang kurang saya
perhatikan di sini, akan saya jelaskan kemudian.

10.50
Setelah meminjam motor teman asisten laboratorium,
dan ngebut-se-ngebut-ngebutnya, saya sampai di
IDP dengan selamat.
Sebelum mengambil TRF kita diwajibkan untuk
tanda-tangan terlebih dahulu. Petugas sempat
kebingungan karena TRF saya tidak ada, dengan nafas
yang sudah tersengal-sengal, saya makin panik
tentunya. Untungnya setelah dicari perlahan TRF
saya berhasil ditemukan.

Jantung berdegup begitu kencang sebelum membuka
TRF saya dihadapan petugas tersebut. Raut muka
saya yang penuh ketegangan berbanding terbalik
dengan raut muka petugas tersebut yang begitu tenang.
Sempat terlintas dalam pikiran saya, kalau
ternyata band IELTS saya tidak mencukupi target,
yang berarti tidak mencukupi persyaratan untuk mendaftar,
maka usaha (dan biaya) yang dikeluarkan
akan sia-sia.

Perlahan saya membuka amplop coklat yang
berisi TRF, sesekali sambil memandangi tumpukan struk
jasa pengiriman barang yang digunakan untuk mengirimkan
puluhan TRF, ternyata TRF baru sampai pada pagi itu juga.
Saat menarik TRF keluar dari amplopnya, sembil berdoa,
akhirnya saya merasakan suatu kelegaan yang amat sangat
setelah melihat Band yang saya dapatkan. Raut muka senang
pun dengan jelas terpancar dari wajah saya saat itu.
Alhamdulillah dapat melampaui persyaratan Band dari uni
yang saya tuju.

Seperti biasa, sifat saya yang suka kurang
puas, bahkan kadang kurang bersyukur, memancing saya
untuk bertanya kepada petugas perihal Band peserta
lain, apakah ada yang mendapatkan 9? Ternyata berdasarkan
pengalaman petugas tersebut, hampir tidak ada
peserta yang mendapatkan Band 9. Jadi penasaran
untuk mencoba lagi.. Setelah pamit akhirnya
saya kembali dengan kecepatan penuh ke kampus
di bilangan dayeuh kolot.

Satu hal yang terlupakan oleh saya adalah
belum booking tiket untuk travel ke Jakarta.
Yang nantinya saya ketahui, bahkan jika saya telah
booking tiket-pun, tidak akan membantu banyak
untuk membantu proses pengiriman dokumen ini.

Berhubung post sudah cukup panjang dan masih ada
beberapa detail yang ingin saya sampaikan,
maka post ini akan disambung ke post berikutnya

Arganka

3 thoughts on “Pengalaman Mendaftar Universitas di Swedia (2)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s