Pengalaman Mendaftar Universitas di Swedia (3)


Hal yang paling indah dalam proses perjuangan ini adalah
saat kita telah mengerahkan segenap tenaga
dan tidak bisa berbuat apa apa lagi,
kemudian menyerahkan segala keputusan kepada sang pencipta.

Seperti kata mutiara yang pernah ditulis oleh salah satu
senior saya : Tulislah impianmu dengan sebuah pensil dan
berikanlah penghapusnya kepada Tuhan.

Melanjutkan kisah dari post sebelumnya,
Setelah selesai shalat Jum’at, saya minta tolong
teman untuk diantar ke Travel Cipaganti di daerah Buah Batu.
Sebelum keluar dari kawasan pendidikan telkom saya
harus mencetak letter of recommendation, cover application,
fotocopy semua berkas, dan berbagai aktivitas
yang sangat terbantu dengan adanya tempat fotocopyan.

Panas begitu terik, kami pun tetap memacu motor
(yang juga milik teman kami yang lain)
ke arah buah batu. Lalu lintas ke pool travel cukup lancar
sehingga pikiran saya waktu itu masih positif
bahwa dapat sampai di Jakarta sebelum jam 5 sore.

 

Tidak ada keberangkatan!

Sampai di pool, tanpa memperdulikan keadaan sekitar,
saya langsung bertanya kepada penjaga tentang ketersediaan
seat ke jurusan sekitar Pancoran, kalau bisa yang tidak
memerlukan waktu tunggu lama.
Namun dengan pandangan sedikit Iba, petugas perempuan
itu menjawab “Tidak ada keberangkatan pada hari ini
karena ada demo buruh di Cikarang. Macet Total, Pak!”

“Pool yang lain bagaimana Mba?” Lanjut saya.
“Sama saja, satu Bandung tidak ada keberangkatan.”
Kemudian dia melanjutkan bahwa kemungkinan masih ada
mobil yang berangkat ke Jakarta, namun waktu dan
Jurusannya tidak dapat dipastikan.
Saya masih terdiam memikirkan cara dan peluang untuk
sampai ke Jakarta pada hari itu juga.
Hari itu adalah kesempatan terakhir saya pada saat itu
untuk mendaftar Uni di Swedia. Tidak ada pilihan lain
selain mengirim pada hari itu.

Suara perut saya berbunyi cukup keras mengingatkan
kalau saya belum makan dari pagi. Akhirnya saya makan
siomay di depan pool travel sambil menghela
nafas panjang dan duduk untuk menjernihkan pikiran.

“Macet total mas! mobil yang berangkat jam 8 pagi
dari Bandung saja belum sampai ke Jakarta!”
Kata seorang pegawai travel yang juga sedang duduk
diluar. Semakin kehabisan kata-kata, tapi hati kecil
saya terus mendesak agar tetap berusaha mencari cara
untuk pergi ke Jakarta.

30 menit berlalu, angka 14.20 terlihat jelas dari layar
HP. Tidak ada tanda tanda kemunculan mobil untuk
keberangkatan ke Jakarta pada pool tersebut. Akhirnya
saya nekat untuk pergi ke travel lain, masih di sekitar
buah batu, lebih tepatnya di lampu merah Soekarno Hatta.

Ada perasaan lega saat melihat beberapa mobil parkir
di depan pool tersebut. Berbeda dengan cipaganti
yang belum pasti keberangkatannya, saat bertanya
tentang seat yang tersedia, jawabannya mereka juga
lebih meyakinkan:
semua keberangkatan hari ini ditiadakan.
Sepertinya mobil yang diparkir memang tidak ditakdirkan
untuk mengantar saya ke Jakarta.

Dengan hopeless saya memutuskan untuk kembali ke
tempat travel pertama.

Oke, saya tidak menyangka kalau post ketiga akan
jadi sepanjang ini, maka akan saya lanjutkan di post
keempat.

Arganka

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s