Pengalaman Mendaftar Universitas di Swedia (5)


Semoga saja cuman sebentar macetnya, saya berkata dalam hati. Namun, setelah
looping bangun-tidur-bangun -dengan mata yang masih setengah terbuka, saya
menyadari travel ini masih berada di tengah kemacetan. Ternyata bukan hanya
arah Jakarta saja yang macet, arah berlawanan juga merasakan hal yang serupa.

Loop

Saya tidak pernah melewati jalur ini lagi sejak sekitar 7 tahun lalu. I really
had no idea where on the earth am I and how long this journey will go on..
and yeah, plus the traffic.

Kembali masuk ke dalam looping yang sama di pembukaan post ini, sekitar 1 jam
kemudian akhirnya kami sampai di salah satu rumah makan yang dijadikan rest
area bagi para pengemudi.

Yang membuat saya terkejut adalah, di tempat ini sudah menunggu beberapa mobil
dari perusahaan yang sama, dan beberapa menit kemudian datang lagi mobil-mobil
selanjutnya – baik arah Jakarta, maupun sebaliknya. Bagaimana caranya mereka
bisa kompak menentukan rest area? dalam keadaan yang tak tentu ini (demo).

Jumlah mobil travel tersebut juga tidak sedikit, sekitar 6-7 travel memenuhi
lahan parkirnya. Jenis mobil travel tersebut juga beragam, dari travelo, elf, dan alphard.

Rumah makan tersebut terletak persis sebelum tikungan yang sangat tajam, saya
teringat para supir yang bersusah payah membantu rekannya yang mau belok untuk
masuk ke restoran -namun terlewat beberapa meter, dari arah yang berlawanan.
Entah mengapa kendaraan yang melaju di jalur tersebut tidak segan-segan untuk
memacu kendaraannya dengan kencang, padahal jalur di sekitar restoran itu cukup
sempit dan tikungannya tajam.

Ternyata rumah makan ini mempunyai ruangan lain yang lebih besar dibanding
dengan ruangan di depan yang berisi kasir dan meja-meja untuk makan. Setelah
shalat ashar dan makan semangkuk mie hangat saya kembali ke luar untuk mencari
udara segar.

Beberapa pengemudi travel itu sedang berdiri di sekitar mobilnya, kemudian
saya iseng untuk bertanya, “kita sudah sejauh mana ya, Pak?”. “Wah ini mah,
baru setengah jalan, Mas.” Tak lama kemudian travel kami meninggalkan rumah
makan tersebut. Bersamaan dengan itu pergi juga travel dari perusahaan yang
sama, dengan tipe travello berwarna silver. Ya, semoga kami bisa sampai tepat
waktu.

 

Hope

Mobil travello silver itu melaju di depan mobil yang kami tumpangi. 10 menit
berselang konvoi travel ini telah sampai di tempat pengisian bahan bakar.
Adzan maghrib sayup-sayup terdengar dari dalam travel. Masih ada 6 jam lagi
sebelum service dhl hari ini berakhir, detailnya bisa dibaca pada post ini.

Konvoi 2 mobil travel tetap berjalan hingga suatu jalan menanjak, travello
tersebut nampaknya sudah cukup uzur dan kurang tenaga untuk naik di tanjakan
yang agak curam ini. Akhirnya dengan berat hati pengemudi travel kami menyalip
travello tersebut disertai bunyi klakson dan lambaian tangan – kurang yakin
apakah pengemudi travello bisa lihat lambaian tangan tersebut. Bunyi mesin
semakin keras, mobil yang kami tumpangi pun melaju dengan cepat di jalan yang
cukup sunyi.

Detak jantung terasa semakin kencang, karena walaupun jalan yang dilalui sudah
lancar, kami tidak tahu kondisi lalu lintas di Jakarta, ditambah lagi dengan
siaran radio yang memberikan laporan bahwa arus puncak yang turun ke Jakarta
dalam kondisi macet – dan memang benar-benar macet saat kami membuktikan
kebenaran siaran tersebut 30 menit kemudian. Macet total. Kendaraan
hampir tidak bergerak. Di tengah kemacetan dan langit yang telah menjadi gelap,
terdengar adzan isya.
We all know, we don’t have all day for waiting this traffic.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s