Pengalaman Mendaftar Universitas di Swedia (6)


Akhirnya travel yang kami tumpangi berhasil melewati kemacetan di puncak. Saat
itu pukul 20:08. Kami telah masuk di tol Jagorawi. Namun belum ada bayangan
tentang kondisi kemacetan di Jakarta. Saya bersyukur masih ada beberapa jam
untuk mengirimkan dokumen, dibandingkan dengan salah satu penumpang yang harus
berada di Bandara Soekano Hatta pukul 20:00. Namun, di saat dimana error tidak
dapat ditoleransi, perhitungan saya meleset.

Terlambat?

Jalan tol di Jagorawi benar-benar mulus, yang saya maksud adalah aspal tol ini.
Sangat berbeda kualitasnya dengan beberapa ruas tol dalam kota, apalagi ruas
tol Cipularang. Mulus juga berarti jumlah kendaraan yang melintas pada saat itu
tidak terlalu padat.

Dalam travel itu, saya sudah membayangkan untuk naik Busway atau bahkan taksi
untuk mengantarkan saya dari Sarinah ke MT Haryono, tanpa mengetahui kondisi
salah satu jalan Jakarta-yang hampir setiap hari pasti macet- itu.

Tiba-tiba suara pengemudi menambah orktestra radio, mesin, dan lamunan saya.
“Mau turun di Pancoran kan, Pak?”
“Ha? Iya, emang bisa, Pak?”, jawab saya setengah tidak percaya. “Bisa kok”,
jawaban pengemudi tersebut dapat sedikit meredakan kerisauan saya.
Alhamdulillah.

Setelah keluar gerbang tol Cawang, travel melewati UKI, kemudian berbelok
ke kiri masuk ke Jl. MT Haryono. Saya belum pernah ke DHL MT. Haryono, terlebih
lagi di malam hari. Yang saya tahu dari google maps saat mencari informasi di
Bandung adalah: lokasi DHL di gedung sebelum lampu merah pancoran (kalau arah
dari Cawang).

Karena itu saya putuskan untuk turun di halte sebelum lampu merah Pancoran.
Setelah mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, saya pun menutup pintu geser
bagian kanan mobil travel yang tampaknya masih baru tersebut.

 

20:40

Ditemani gelapnya malam dan udara Jakarta yang khas – dengan campuran polusi,
saya melanjutkan perjuangan dengan berjalan kaki. Tampak kumpulan orang yang
sedang bersantai bersama motornya, ah ojek! Karena tidak ingin membuang
waktu, saya langsung minta abang ojek tersebut untuk mengantarkan saya ke DHL.
“Oh, deket kok dari sini” abang ojek itu menjawab setelah saya tanya lokasi
DHL. Saya langsung naik ke ojek abang tersebut.

“Oke bang, tancap!”

Tak lama kemudian, benar-benar tak lama (hanya sekitar 1 menit) ojek sudah
berada di gerbang DHL. Gerbangnya setengah terbuka dan abang ojek langsung
masuk ke gerbang tersebut. Saya bersyukur naik ojek, setelah bertanya satpam,
ternyata tempat pengiriman barang terletak agak di belakang dari kawasan ini.

Sebagai gambaran di sekitar kami ada banyak mobil box dan kontainer. Untunglah
ada ojek di sini. Ojek pun dipacu menuju bagian pengiriman dari DHL, banyak box
kayu yang telah dipacking, ada juga alat pengangkut box kayu tersebut – kurang
tahu namanya apa, mungkin lifter? karena fungsinya menaik-turunkan box?.

“Tok, tok, tok” saya mengetuk pintu pos satpam. Namun tidak ada orang saat saya
mencoba melihat isi ruangan itu lewat jendela. Ada bagian terang sekitar 20m
dari posisi kami berada. Akhirnya kami pergi ke tempat itu. Terdapat pintu
gudang terbuka yang sangat besar, di dalamnya adalah gudang yang terang, penuh
dengan box-box yang siap dikirim. Orang dan mesin lalu-lalang dengan rapih di
tempat itu. Saya terpana dengan canggihnya sistem tersebut.

Satu hal yang saya pikirkan, jika ini memang kantor mana meja receptionist,
kursi untuk antri, display nomor antrian, dan petugas yang menyapa pelanggan
saat datang? Langsung saya bertanya ke petugas yang ada di tempat itu.

Benar saja, tempat ini adalah gudang untuk packing, kami telah salah tempat.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s