Pengalaman Mendaftar Universitas di Swedia (7)


Saya tidak menduga bisa-bisanya salah tempat di waktu krusial seperti ini.
Petugas yang berjaga saat itu langsung bertanya “Memang mau kirim kemana,
Mas?”. “Ke Swedia Pak, bisa gak ya?”
Bersamaan dengan suara lifter box yang bergerak petugas itu terdiam.

Not again.

“Oh kalau gitu coba tanya di kantor depan aja, Mas”
Sudah saya duga, ternyata ini memang gudang tempat untuk loading dan packing
barang yang akan dikirimkan. “Terima Kasih, Pak”. Tanpa membuang waktu saya
dan abang ojek kembali ke gerbang depan wilayah tersebut.

Ternyata di sebrang gerbang tersebut ada gerbang yang lebih bagus. Gerbang ini
memiliki portal seperti sistem parkir di mall. Saat pulang saya baru tahu kalau
ini adalah gerbang belakang DHL yang masih buka, gerbang utama ditutup sejak
sore hari. Abang ojek pun kembali ke pangkalannya setelah menerima uang yang
telah disepakati.

Saya baru sadar melihat bapak saya di gerbang tersebut. Alhamdulillah saya
bersyukur selalu mendapat support yang tak henti-hentinya dari kedua orang tua
untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kami berjalan melewati portal tersebut, bapak kemudian mampir ke mobil untuk
mengambil fotocopy passport. Ya, passport adalah salah satu persyaratan untuk
mendaftar, dan untungnya orang tua saya sempat untuk membawanya ke DHL.

Kemudian kami masuk ke ruangan berkaca yang hampir setengahnya ditutupi sticker
putih transparan dan logo DHL. Pintunya juga terbuat dari kaca dengan handle
pintu dari alumunium. Ruangan itu tidak terlalu besar, ruangannya bersih dan
dingin. Saya tidak bisa membedakan apakah benar-benar dingin atau saya yang
sudah kedinginan karena telah berada di travel sekitar 6 jam.

Di dalamnya terdapat meja cukup lebar seperti yang terdapat pada lokasi teller
bank. Di balik meja itu ada seorang operator yang dilengkapi dengan komputer,
printer, tag, dan perlengkapan lain untuk pengiriman. Operator tersebut sedang
melayani satu orang yang datang sebelum kami.

Beberapa menit berselang. Sekarang giliran saya untuk mengirimkan dokumen.
Sebelumnya saya telah beberapa kali mengecek kelengkapan dokumen. Namun saya
kembali mengeceknya di depan operator untuk memastikan urutan dari dokumen
dan tidak ada dokumen yang tertinggal atau terselip.

Operator itu memakai jaket dan topi khas DHL, benar-benar style untuk shift
malam pikir saya. Saya pun menyadari kalau ruangan ini benar-benar dingin.
“Mau kirim dokumen ini kemana?”. “Ke Swedia, alamat detailnya ada di dokumen
ini.” Jawab saya dengan cepat yang diiringi dengan perubahan mimik
dari operator tersebut.

Oh.. not again. feeling saya tidak enak dengan keadaan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s