Tim Cook’s Interview


Baru saja baca artikel tentang interview Tim Cook.
Interview yang bagus dan memberi sudut pandang lain.
I love this man! Ada sifatnya yang mirip seperti saya
yang lebih suka “went anonymous”.
Interview yang cukup panjang ini memberi inspirasi
saya tentang pandangan seorang CEO.
Here’s some of my thought about this article. Enjoy!
http://www.businessweek.com/articles/2012-12-06/tim-cooks-freshman-year-the-apple-ceo-speaks#p1

Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran

*Saya hanya membahas bagian kecil dari interview ini,
 karena jika dibahas semua bisa-bisa jumlah post nya
 akan dua kali lipat lebih banyak dari series ini

More so than any person I ever met in my life,
[Jobs] had the ability to change his mind,

Cook menjelaskan tentang “gift” yang dimiliki oleh Steve Jobs,
yaitu kemampuan untuk merubah pemikiran dalam sekejap.
Tanpa kemampuan ini biasanya seseorang akan terpaku
pada ide/pemikiran yang dia percayai. Akibatnya seseorang
tidak menerima ide baru dan cenderung tiak mengakui kesalahannya.

I think, CEOs and top executives,
they get so planted in their old ideas,
and they refuse or don’t have the courage
to admit that they’re now wrong.

Hal ini sangat benar dalam pengalaman saya,
beberapa pemimpin atau superior yang pernah bekerja sama atau
yang saya tahu biasanya jarang ada yang punya keberanian
untuk mengakui kesalahannya.
Semoga di masa depan saya bisa belajar dan bekerja sama
dengan orang-orang seperti Cook dan Jobs dan menjadi lebih baik
dari mereka.

He goes, “I never want you to ask what I would have done.
Just do what’s right.” He was very clear.

Cook menceritakan pengalamannya saat Jobs memintanya
untuk menjadi CEO Apple. Jobs menceritakan saat setelah
Walt Disney meninggal, bisnisnya terhenti dan semua orang
kebingungan berpikir tentang “Apa yang akan Walt lakukan?”
Jobs tidak ingin itu terjadi dan mengatakan kalimat
sesuai quote diatas.

Banyak orang yang meragukan perkembangan Apple sepeninggalan
Jobs. Meskipun saya bukan fanboy Apple dan tidak terlalu
peduli dengan perkembangan perusahaan tersebut, tapi saya peduli
dengan produk yang berkualitas tinggi dan memperhatikan detail.
Dan produk mereka memang seperti itu.

You just can’t compare Jobs with Cook. That’s it.
They’ve different ways to do things. The only one thing in common:
They share the same value just like Cook and Ive.

We both view Apple as here to make the best products in the world.
So our values are the same.

Sudah menjadi naluri manusia untuk menolak perubahan.
Manusia sangat nyaman dengan posisinya saat ini dan
jarang sekali yang suka dengan perubahan. Hal ini
sangat berhubungan dengan quote yang disampaikan
pada awal post ini.

Saya jadi teringat pelajaran yang diambil dari
salah satu buku Prof. Rhenald Kasali.
Perubahan, baik radikal maupun tidak, dapat mengakibatkan
kehancuran atau keberhasilan yang signifikan. Tetapi,
dengan kondisi yang stagnan, dipastikan kehancuran
akan datang.

Dunia terus berubah, tiap detik. Kita tidak bisa
mengharapkan solusi lama akan selalu berhasil
dan menjadi “silver bullet” untuk masalah yang ada.
Sedangkan, kita juga harus sadar bahwa perubahan
tidak menjamin keberhasilan.

Dilema seperti ini mungkin dapat terjadi di
tim atau organisasi yang terlalu birokratis,
dimana ide-ide hanya muncul dari kalangan eksekutif
yang jumlahnya hanya satuan – dibanding dengan
pegawai yang bisa berjumlah ribuan.

Saya harap kita semua dapat mengambil pelajaran
dari interview ini dan mengevaluasi diri sendiri
karena suatu saat, mungkin, kita yang akan berada
di posisi seperti Cook.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s