Imagine Cup Experience – It’s a Trap!


“Whaaat?! Why don’t you say this at the first place?
I will gladly recommend someone else.”
Kalau ada alat yang bisa baca self-talk kita, itulah
kira-kira output yang akan dikeluarkan alat tersebut.

 

“Pa, aku lagi ikut lomba, kalau menang nanti mewakili Indonesia ke Amerika.”
“Hmmm?”
“Iya Pa, teman setimku yang tahun lalu juara 3 di Polandia.”
“Oh gitu, papa doain semoga lancar ya.”

Do’a orang dan restu orang tua memang merupakan sencata ampuh untuk
melengkapi kerja keras dalam meraih mimpi. Beberapa waktu sebelumnya
saya pernah membaca buku 7 Keajaiban Rizki nya Ippho Santosa, dimana
pembahasan pertamanya adalah tentang 2 malaikat.
Ya, kedua malaikat itu adalah Ibu dan Bapak kita.

Sebenarnya saya sempat minder saat pertemuan pertama dengan tim ini.
Tidak pernah terbayang untuk bertarung di Software Design, kategori
yang menurut saya paling keras di Imagine Cup; apalagi bisa berjuang
dengan satu tim yang tahun lalu mengibarkan Bendera Indonesia di podium
worldwide finals 2010 di Polandia.

 

The Trap

Jika ditanya secara langsung, ingin gabung ke tim untuk IC atau ngga?
Saya pasti spontan jawab “Hell no!” karena saat itu kebetulan sedang ada
beberapa kesibukan. Tapi pada suatu pagi, ada teman yang membuat status
di social media – yang sangat menarik perhatian saya.

statusupdate

Status yang begitu menggoda, belajar teknologi baru dan senang2,
pasti menyenangkan sekali pikir saya. Tidak ada kecurigaan sama sekali
dan tanpa pikir panjang langsung saya like dan sanggupi
permintaan teman saya.

Beberapa saat dari kejadian tersebut, datang sebuah message dari
dia, yang intinya mengatakan kalau mereka sedang merancang tim
untuk Imagine Cup 2011 dan kekurangan designer, karena designer
mereka sebelumnya ingin segera menyelesaikan kuliahnya.

“Whaaat?! Why don’t you say this at the first place?
I will gladly recommend someone else.”
Kalau ada alat yang bisa baca self-talk kita, itulah
output yang akan dikeluarkan alat tersebut.

 

That’s it!

Antara shock karena terkena jebakan dan rasa penasaran untuk
belajar teknologi yang dia bilang, akhirnya saya menyanggupi
untuk membantu tim ini sebagai designer. Walaupun belum ada
pengalaman develop teknologi Microsot, tapi saya pikir skill
design dan pengalaman beberapa juara web design bisa membantu.

Masih dengan rasa penasaran, dan sedikit minder, akhirnya
saya datang ke meeting pertama dengan tim. Meeting berjalan
dengan sangat seru, kami membahas ide apa yang akan diangkat
oleh tim. Sangat terasa mental juara yang mereka miliki,
sementara saya masih berpikir, apakah saya bisa menjadi lebih
baik untuk mendukung tim ini. Untungnya, dengan dukungan
dari orang tua dan tim saya dapat belajar banyak dalam
kompetisi ini.

That’s it. Saya bergabung dengan tim mereka hanya lewat
status facebook. Proses yang sedikit awkward memang,
tapi, ya begitulah.

 

Formasi Tim

So, saya harap kalian sudah menemukan formasi tim yang
bisa diajak untuk kerja sama. Kalian tidak harus memasukkan
semua dewa programmer dalam satu tim, hanya diperlukan
keseimbangan dalam formasi tim. Karena masalah yang
dihadapi bukan hanya teknis dan program. Ada banyak
faktor yang harus kalian perhitungkan.

Kehadiran seorang mentor dapat membantu tim memecahkan masalah,
mentor dapat menjaga arah dan kecepatan pekerjaan dari tim.
Akan saya bahas tentang mentor tim kami di post yang akan datang.
Sampai saat itu, silahkan mematangkan formasi tim
yang akan atau sudah kalian miliki.

*Oh, by the way, feel free to ask anything.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s