15d IxD Sightseeing – day2 – 5 Factors of IxD


Interaction design is about shaping digital things for people’s use

 
Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan kita.
Internet dan smartphone merupakan contoh yang paling
mudah dilihat. Dengan tingkat interaksi yang meningkat,
maka dibutuhkan teknologi digital yang bisa berinteraksi
dengan baik dengan konsumen. Hal ini mengakibatkan
budaya design dan engineering yang lebih memperhatikan
pengalaman pengguna, atau biasa kita kenal dengan UX.

Dalam artikelnya di Interaction-Design.org, Jonas Löwgren
menjabarkan 5 karakteristik dari Interaction Design.
Sebelum kita simak satu per-satu, ada baiknya jika kita memahami
motivasi Jonas membuat 5 faktor ini.

***
Istilah Interaction Design masih belum “fix” sampai
sekitar tahun 1990; pada masa itu komunitas design
berpendapat bahwa aktivitas manusia di dunia maya masuk
ke dalam domain industrial design.

Seiring dengan pergantian abad, istilah Interaction
Design mulai mendapatkan popularitas sebagai cara untuk
mendapatkan pendekatan yang lebih “designer”.
Tidak hanya membahas kualitas dari kegunaan dan
efisiensi; tapi juga, misalnya, kualitas estetika penggunaan.

Sejak saat itu, banyak dari praktisi, program studi,
literatur, dan jejaring yang terbentuk dibawah nama
Interaction Design. Dapat dipastikan, setiap institusi
memiliki pengertian dan definisi masing-masing atas
Interaction Design. Dalam artikelnya, Jonas tidak melihat
keuntungan dari menjabarkan semua definisi tersebut. Dia
menjabarkan formulasi sederhana dari Interaction Design:

“Interaction design is about shaping digital things for people’s use”

Kata “shaping” maksudnya adalah aktivitas “design”. Bisa
dianggap seperti lawan kata “building” dalam aktivitas
“engineering”. Mari kita bahas ke lima faktor tersebut:

 

1. Design involves changing situations by shaping
and deploying artifacts

Dengan kata lain, design adalah tentang transformasi.
Sarana yang tersedia bagi designer untuk melakukan
perubahan tersebut, tidak lain adalah artefak. Artefak
bisa berarti objek apapun yang dibuat oleh manusia.

Dalam Interaction Design, hal ini menghubungkan ke gagasan
tentang apa yang di-design oleh Interaction Designer.
Jonas membatasi, Interaction Designer hanya mendesign
benda digital. Maksudnya, misalkan, merubah situasi dengan
merancang dan melaksanakan inisiatif politik baru tentu
bisa dikatakan sebagai tindakan design. Namun, hal ini
bukan tindakan dari Interaction Design.

“Interaction Designer  mendesign benda digital.”

 

2. Design is about exploring possible futures

Hal ini mungkin terlalu jelas untuk dijabarkan. Namun
mungkin layak untuk dibahas dari sudut pandang akademisi,
karena menyangkut perbedaan fundamental seperti studi
analitis dan kritis. Hal dapat mempengaruhi, misalnya,
bagaimana penelitian dilakukan.

Memandang design sebagai “exploration” juga berarti sering
kali, pada fase awal pekerjaan, akan banyak waktu yang
digunakan untuk melihat berbagai kemungkinan sebelum
menentukan arah pekerjaan selanjutnya.

Klaim bahwa design menyangkut “exploring possible futures”
juga berarti bahwa aktivitas seperti user study dan
summative evaluation bukan merupakan Interaction Design
itu sendiri. Namun, kedua hal tersebut sering digunakan
dalam proses Interaction Design; dan masuk akal untuk
mempertimbangkan proses yang lebih besar seperti kerja
lapangan, serta inovasi dan evaluasi sebagai proses design
secara keseluruhan.

“…pada fase awal pekerjaan, akan banyak waktu yang
digunakan untuk melihat berbagai kemungkinan…”

 

3. Design entails framing the “problem” in parallel
with creating possible “solutions”

Dari pengertian tentang perubahan situasi (1) dan
exploring possible futures (2) kita dapat menyimpulkan:
Ketika kita telah merancang sesuatu, kondisi di lapangan
mungkin saja telah berubah.

Hal ini berarti analisis bertujuan untuk mendefinisikan
“problem” dilakukan hampir bersamaan dengan penciptaan
“solution”.

Ingat dengan waterfall? Metode waterfall tidak akan bisa
digunakan dalam proses design ini. Hal ini memang
disengaja karena faktor (1) dan (2) tadi.

“Metode waterfall tidak akan bisa
digunakan dalam proses design ini.”

 

4. Design involves thinking through sketching
and other tangible representations

Saat melakukan sketching gambaran atau aspek dari
“possible futures” (seperti produk yang belum ada saat
ini), designer tidak hanya langsung meng-copy gambar
yang ada dalam bayangannya. Sketsa adalah micro-
eksperimen, hasil iterasi dari pertimbangan kelebihan
dan kekurangan serta perubahan fitur-fitur yang melibatkan
tangan, rasa, dan pikiran. Istilah yang sama juga berlaku
pada media sketching lain.

Dalam Interaction Design, karena material yang digunakan
adalah digital, maka Jonas menambahkan: dalam mendesign
teknik interaksi yang inovatif, mungkin diperlukan
sketching pada level software dan hardware dibanding tetap
melakukan sketching pada media tradisional.

Pada umumnya, istilah sketching lebih lekat kepada mindset
dari designer, daripada dengan medium yang digunakan. Hal
yang perlu diperhatikan dari sketch adalah: “benda”
tersebut dapat merepresentasikan maksud dari designer dan
memancing designer untuk berfikir lebih jauh tentang
detail “benda tersebut”.

Ciri lain sketch adalah: Cepat, sementara, dan dapat
dibuang. “Benda” tersebut dapat berupa apa saja, dari
gambar di atas tisu sampai ke kode program! Hal yang
paling penting adalah maksud dan tujuan.

“Sketch dapat berupa apa saja, dari
gambar di atas tisu sampai ke kode program!”

 

5. Design addresses instrumental, technical,
aesthetical and ethical aspects throughout

Setiap “possible fututres” yang di “explore” dalam proses
design akan memunculkan pertimbangan dan pengorbanan dari
ke-empat aspek tersebut. Hal ini juga berlaku dalam
Interaction Design: pertimbangan teknis akan berdampak
pada kualitas estetik dari interaksi yang dihasilkan,
pemilihan instrumen pada fitur juga akan mengakibatkan
perbedaan etika, dan seterusnya.

Secara historis, ada kecenderungan dalam human-computer
interaction, usability engineering, dan human factor untuk
fokus pada aspek instrumental dan teknis. Interaction
Design, sebagai aktivitas “design” juga tidak bisa
mengabaikan kualitas estetika dan etika.

Apakah sesuatu terlihat dan terasa nyaman untuk digunakan,
dan apakah hal itu membuat Anda nyaman dalam akuntabilitas
sosial dan standar moral; memiliki dampak yang nyata bukan
hanya dari sisi user experience, namun juga keluaran
instrumental yang dapat kita ukur.

Bagi Interaction Designer, user adalah keseluruhan manusia
dengan kepekaan/indra yang kompleks. Proses design harus
dilakukan sesuai dengan mempertimbangkan faktor ini.

“Proses design harus mempertimbangkan user”

 
Lowgren, Jonas (2013): Interaction Design. In: Soegaard, Mads and Dam, Rikke Friis (eds.).
“The Encyclopedia of Human-Computer Interaction, 2nd Ed.”. Aarhus, Denmark: The Interaction
Design Foundation. Available online at http://www.interaction-design.org/encyclopedia/interaction_design.html

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s