15d IxD Sightseeing – day4 – More on Interactivity


Setelah beberapa post membahas tentang dasar
Interaction Design, tentu kita sudah ada bayangan kasar
tentang beberapa perbedaan bidang ini dengan bidang
yang lain. Jika kita amati, sudah jelas, misalkan
furniture designer mendesign furnitur. Lain halnya
dengan interaction designer, hasil produk akhir yang
dibuat oleh pekerjaan ini kurang jelas.

Salah satu pendapat yang menjawab pertanyaan diatas
muncul dari Löwgren (Löwgren 2008). Dia mengatakan
bahwa produk akhir yang dihasilkan oleh Interaction
Designer adalah “produk dan layanan yang interaktif”.
Oke, mungkin sudah ada jawabannya. Namun, jawaban ini
memunculkan pertanyaan baru: Apa yang menyebabkan
sesuatu bisa disebut interaktif?

Produk atau layanan disebut interaktif jika melibatkan
interaksi. Interaktivitas dari sebuah artefak adalah
tingkah laku interaktifnya yang dirasakan oleh pengguna.
Interaktivitas adalah properti dari artefak; disamping
properti lain seperti tampak visual.

 

Apa yang membuat sebuah produk atau layanan menjadi
interaktif?

Mungkin Anda pernah mempunyai lampu meja
yang dinyalakan dan dimatikan dengan sentuhan. Contoh
lain adalah saat berada di kokpit pesawat, pilot
berinteraksi dengan banyak tombol dan panel yang ada di
tempat tersebut.

Sedangkan contoh dari layanan interaktif misalnya
internet banking dan social media, semua hal ini
dimungkinkan dengan perkembangan PC dan smartphone.
Semua contoh diatas interaktif. Adakah produk digital
yang tidak interaktif?

Mari kita kembali saat praktikum elektronika di sekolah
menengah. Misalkan kita menyolder baterai, kabel, dan
bohlam sehingga menyala. Kemudian kita meletakkan
rangkaian tersebut dan menunggu hingga baterai habis.
Produk digital seperti ini tidak bisa disebut interaktif.

Anda tentu saja bisa mematikan bohlam dengan memotong
kabel, namun hal tersebut bukanlah interaktivitas yang
dimaksudkan dari produk tersebut.

Bohlam tersebut bisa diganti dengan, misalkan, display
digital seperti TV raksasa di jalan-jalan protokol
Jakarta atau Bandung yang menampilkan gambar yang jauh
lebih kompleks dari hanya sebuah cahaya. Namun, tanpa
adanya tombol, tuas, atau alat apapun yang dapat
digunakan untuk berinteraksi dengan produk, maka produk
tersebut bukanlah produk yang interaktif.

Dari contoh diatas semakin jelas bahwa yang membuat
sebuah produk interaktif atau tidak, bukanlah tingkat
kompleksitasnya, bukan juga produk itu digital atau
tidak. Yang menentukan adalah, apakah produk tersebut
didesign untuk memberi respon dari aksi yang dilakukan
oleh pengguna.
 

Contoh menarik untuk Anda explore

Beberapa bulan lalu saya sempat menonton talk TED
tentang teknologi yang digabungkan dengan selera humor.
Secara pribadi saya lebih suka menyebutnya playful
technology. Sangat menarik untuk membuat pameran dengan
produk seperti ini, for fun, pasti menyenangkan!

 

 
 

Lowgren, Jonas (2008). Interaction Design. Retrieved 15 February 2013 from http://www.interaction-design.org/encyclopedia/interaction_design.html

Svanaes, Dag (2013): Philosophy of Interaction. In: Soegaard, Mads and Dam, Rikke Friis (eds.). “The Encyclopedia of Human-Computer Interaction, 2nd Ed.”. Aarhus, Denmark: The Interaction Design Foundation. Available online at http://www.interaction-design.org/encyclopedia/philosophy_of_interaction.html

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s