Juli 2012 – A year Ago


Petunjuk suhu di bus tersebut memunculkan angka -2. What? Main ke Moko di waktu subuh aja badan ini udah menggigil kedinginan, apalagi suhu di bawah 0 derajat; di gunung es.

Sebenarnya tidak terbayang bahwa keinginan untuk meilihat salju akan terwujud
dalam waktu sesingkat ini. Butir butir salju pertama kami, atau lebih tepatnya
badai salju, melenglapi “hadiah” kelulusan saya; setelah tim kami berhasil
masuk ke final Imagine Cup 2012 di Sydney. Perjuangan tim saat itu cukup
berat, karena ketua dan presenter kami terbelit masalah visa.

Robots
Robots

Di Sydney kami bertemu salah satu dosen ITT, Pak Dana, yang sedang menyelesaikan
S3 nya. Berbeda dari tahun lalu, tahun ini kami bisa memperpanjang waktu
tinggal dan nego tiket pulang ke Pak Julius. Kami tinggal di rumah Pak Dana dan keluarga.
Dari beliau kami mendapat informasi bahwa mahasiswa dan keluarga
yang tinggal di Sydney akan bermain ski di Snowy Mountain.

Petualangan kami di Sydney, bagi saya pribadi, memberi semangat dan inspirasi
untuk melanjutkan studi di luar negeri. Saat perjalanan ke snowy mountain
banyak petuah dan cerita yang diberikan mahasiswa yang telah mengenyam
pendidikan di Sydney, dan sepertinya University of Sydney mempunyai jurusan
yang saya minati.

Sedangkan untuk masalah kehidupan, tante Apun di Sydney sempat bercerita ke
saya tentang kehidupannya di Sydney: anak bungsunya yang sukses mengejar cita-
citanya kerja di Disney Land sebagai semacam dancer dan koreografer, not sure
about the detail though. Cerita beliau cukup menghibur, setelah saya menunda
keberangkatan ke Swedia pada tahun tersebut.

***

Bersama Pak Suy dan mahasiswa bimbingannya
Bersama Pak Suy dan mahasiswa bimbingannya

Setelah gladi resik wisuda selesai, saya sempatkan mampir ke BK untuk silaturahmi.
Malam sebelum wisuda saya tetap menginap di lab bersama teman-teman seperjuangan.
Pagi harinya, setelah sahur dan shalat subuh saya kembali ke kosan untuk mandi
dan bersiap datang ke acara yang spesial untuk orang tua ini. Di sepanjang
jalan pulang terlihat wisudawan dan wisudawati yang telah rapih berjalan
dengan keluarganya, kontras dengan rambut acak-acakan saya dan muka bantal
yang kedinginan menatap dinginnya pagi di Dayeuhkolot.

Sadar kalau tidak banyak waktu yang tersisa, saya mandi kilat dan langsung
menggunakan setelan yg biasanya hanya digunakan saat menghadiri undangan.
Setelah sampai ke lapangan untuk mengambil medali, saya kembali ke lab untuk
mengambil toga dan mencoba menenangkan diri sebelum menuju Gedung Serba Guna.

Sekuat apapun saya mencoba, saya tetap tidak bisa menahan getaran tangan yang
semakin lama semakin kuat. Terlebih lagi setelah seorang teman, Freddy, menya-
nyikan lagu yang kira-kira intinya adalah lagu cinta untuk mama. Tidak terasa
kertas pidato yang niatnya akan saya gunakan sebagai panduan sudah mulai lecek
saat nama saya dipanggil untuk memberikan sambutan.

Dengan mata yang sudah mulai berair karena konten dari draft sambutan, ditambah
dengan bumbu suasana haru setelah lagu tersebut, akhirnya saya memulai sambutan.
Perlahan kertas sambutan saya buka dan letakkan di podium.
“Assalaamu’alaikum. Selamat pagi”
“….”
“Tes, tes..”

Namun suara saya yang sudah gemetar tidak terdengar lewat sound system gedung.
Ternyata ada gangguan dengan mic di podium.

What a great start :))

Akhirnya saya diberikan mic cadangan dan memyampaikan sambutan dengan ingatan
di kepala saya. Saya tidak menyangka, sebagai mahasiswa biasa, bisa berdiri
sebagai salah satu wisudawan terbaik. Sambutan yang saya berikan lebih seperti
metafora perjuangan kedua orang tua dan ucapan terima kasih kepada mereka.
Harapan saya agar para wisudawan/wati bisa menyadari dan menghargai kehadiran
kedua malaikat yang tanpa lelah, dan seringkali tanpa kita sadari, berperan
besar dalam perjuangan dan kesuksesan kita.

Ternyata seru juga bisa terisak-isak sembari tertawa di atas podium di momen
spesial untuk mereka ini. Saya sangat bersyukur mereka kedua bisa hadir di
hari bahagia tersebut. Karena menyampaikan sambutan dengan improvisasi,
nampaknya sambutan saya memakan waktu yang lebih lama dari waktu yang disediakan.
Akhirnya Pak Igan memberikan kode bahwa waktu sambutan saya sudah habis;
padahal saya sempat khawatir kalau saya kehabisan kata-kata di atas podium.
Jarang-jarang saya bisa menyampaikan perasaan kepada kedua orang tua, tapi
saya sangat senang bisa memuliakan mereka di depan orang banyak.
Wisuda ini spesial untuk kalian.

Sebenarnya saya berniat untuk menyampaikan hal yang disampaikan oleh Salman
Khan
, di salah satu perayaan kelulusan di Rice University. Pesan yang disam-
paikan sangat-sangat dalam dan relevan dengan kehidupan. Apa daya waktu
tidak memungkinkan.

DMC dan IF Lab
DMC dan IF Lab

***

Dua hari setelah kelulusan saya memutuskan menjual komputer yang telah
menemani pengerjaan TA dan Imagine Cup. Sebenarnya agak sedih, tapi kebutuhan
untuk komputer portable mengharuskan saya untuk menjual komputer yang baru
4 bulan saya beli itu. Akhirnya saya mendapatkan pengganti yang lebih baik,
walaupun agak was-was saat transaksi COD. Tabungan saya langsung menipis
seperti sedia kala.

***

Selamat hari Ibu.

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s