September 2012 – A Year Ago


It is not the mountain we conquer, but ourselves.
Sir Edmund Hillary

Dinginnya angin menusuk menembus lapisan serat wol yang membalut kedua telapak tangan ini. Kami telah menunggu lama di kemiringan 60 derajat, cukup lama sampai kami sendiri bertanya ke dalam diri masing-masing: apa sebenarnya yang kami cari di tempat ini.

Suara gemuruh, angin, batu dan pasir yang bergelinding ke bawah menjadi satu. Gelap. Pandangan saya hanya dibantu oleh senter bulat yang telah menemani sejak tengah malam lalu. Sudah terlambat untuk membatalkan niat dan mengikuti beberapa pendaki yang memutuskan untuk turun; khawatir bahwa asap yang keluar dari kawah gunung tersebut akan terbawa angin ke arah kami.

Perlahan keadaan mulai mereda dan kami melanjutkan summit attack di puncak berpasir tersebut. Melangkah 2 kali, merosot satu langkah. Seorang teman berkata, saat naik gunung akan kelihatan kepribadian orang yang sebenarnya. Bekal kami mulai menipis, air sungai yang diberi tambahan nata de coco terasa sangat lezat menyegarkan tenggorokan kami yang rasanya sudah kemasukan pasir, mengikuti jejak mulut dan hidung.

Dari sisi kiri terlihat perubahan warna langit menjadi biru kemerahan. Namun saat mengadahkan pandangan ke atas, tempat yang kami tuju tampaknya masih jauh. Setelah beberapa saat akhirnya kami berhasil mencapai tempat tersebut. Ada bendera negara tercinta berkibar dengan gagahnya. Beberapa orang melakukan sujud sukur, ada yang hormat ke bendera, dan merebahkan badan. Puncak pertama saya, terlebih lagi pendakian gunung pertama saya.

    Aki-aki akhirnya sampai di puncak
Aki-aki akhirnya sampai di puncak

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari pendakian tersebut, khususnya sebagai bekal saya dalam kehidupan. Selain lebih menghargai alam, saya semakin sadar bahwa manusia itu makhluk yang kecil sekali dibanding ciptaan-Nya, tidak berdaya saat di alam terbuka, masih mau sombong dan berpikir kita yang terbaik?

Selain itu ada pengalaman menarik yang mengajarkan ketulusan dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Pelajaran itu kami terima dari salah satu ‘kuncen’ gunung tersebut, Pak Sinambela. Orang menyebutnya kuncen, namun dia sendiri tidak senang dengan panggilan tersebut.
Detail cerita tentang orang tersebut bisa didapatkan di blog teman saya.

Kami pergi sebelum waktu subuh menuju ke Bromo, ditengah bekunya udara Ranu Pane. Karena hanya bertiga, patungan jeep dari Ranu pane terasa cukup berat.
Sang empunya jeep adalah teman dari Pak Sinambela sendiri, dia punya kartu nama
sendiri, hal itu sempat membuat saya terkesima.

Jeep Pak Rendy yang mengantarkan kami ke Bromo
Jeep Pak Rendy yang mengantarkan kami ke Bromo

***

Milky way!
Milky way!

Setelah pulang ke rumah dan mengecek rekening, saya baru sadar bahwa pundi-pundi sudah menipis. Alhasil program pengencangan ikat pinggang kembali dimulai. Saya langsung melanjutkan belajar Bahasa Swedia tiap hari lewat Rosetta Stone; aktif lagi di Coursera dan mengikuti course Gamification, Writing for Science, dan HCI (HCI untuk yang kedua kalinya, dan lagi lagi mandet di tengah jalan)

Beberapa hari saya habiskan di rumah sebelum berangkat ke Bandung untuk mengisi kegiatan dengan beberapa kompetisi, serta mencoba bertarung di Indigo Fellowship bersama tim Qronis.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s