Januari 2013 – A Year Ago


Keuntungan reapplicant biasanya adalah lebih siap dokumen dan mental, karena tidak perlu mulai dari 0 seperti proses apply pertama kali. Tahun ini, saya hanya perlu mempersiapkan sebagian requirement sebagai syarat pendaftaran; karena Ijazah, transkrip, CV, dan IELTS sudah siap.

Pada tahun ini saya hanya mengabari beberapa orang tentang rencana saya apply ke mana saja, seperti pergerakan gorong-gorong. Senang sekali karena KTH buka program HCI untuk mahasiswa Internasional.

Ada tiga kelompok program yang saya Apply:

  1. Universitas di Swedia (KTH dan Umea)
  2. EIT ICT Lab Master School (KTH 1st year, Aalto 2nd year)
  3. Universitas di Finlandia (University of Tampere)

Proses aplikasi online lancar jaya, namun sempat bingung karena jurusan HCI di KTH tidak termasuk dalam list SI Scholarship, jadi saya harus menambah universitas lain yang tercakup dalam beasiswa tersebut. Untungnya ada peluang beasiswa Ernst Johnson Foundation di KTH.

Dokumen dokumen, check. Namun saya baru sadar, untuk apply ke Uniadmission di Swedia, ada biaya sekitar 1 juta rupiah. Ditambah lagi, karena saya apply di tiga program, saya harus mengalokasikan dana untuk pengiriman 3 berkas, kemungkinan via DHL dari Indo ke Swedia dan Finlandia. Seperti biasa, pundi-pundi selalu pas, pas untuk makan aja. 🙂

***

Bangun Candi dalam Satu Malam

Lagi lagi ada jalan di tengah kesulitan. Ada kompetisi porting aplikasi BB, iya BB yang itu. Layaknya pujangga yang sedang bangun candi untuk tuan puteri; saya, Ucup, Angga, dan seorang mentor berencana porting 100 aplikasi dalam waktu beberapa hari.

Awalnya kami bertiga sempat pesimis dan berdiskusi, “agak gila ini orang, gak realistis, 100 apps dalam 1 minggu”
Tapi di situlah serunya, walaupun teknologi yang digunakan masih sangat asing bagi kami; walhasil belajar Ucup dan Angga belajar dulu dalam waktu 2-3 hari, sedangkan saya nyicil membuat asset design – sehingga waktu untuk bangun candi jadi hanya satu hari.

Tanpa diduga, ada trouble dengan program untuk porting apps tersebut saat deadline tinggal 12 jam.
Asset dan waktu yang telah kami luangkan rasanya hampir sia-sia.
Suram.

Lucunya, beberapa jam sebelum deadline, kami bertemu dengan generator apps BB. Kami langsung menggunakan generator dan submit 9 ‘trash apps’ dari situs tersebut. Beberapa hari kemudian ada notif kalau 9 apps tersebut diterima. Kami bertiga cekikikan sendiri. Walaupun uangnya tidak langsung cair, setidaknya bisa jadi simpanan pundi-pundi.

Well, di masa depan kita harus lebih tenang dan mencoba menggunakan sudut pandang yang beda. Lebih gampang ditulis memang, namun jika mengalami sendiri, lama kelamaan pasti paham; jika ingin mengambil pelajaran dan hikmah tentunya.

Selain itu pengalaman submit apps ini mengajarkan kami untuk tidak selalu mengejar hasil yang langsung terlihat dan menjadi pribadi yang lebih sabar.

Karena dokumen untuk aplikasi ke Uni di Swedia tidak ribet, akhirnya saya kirimkan berkas aplikasi lewat DHL, di tempat yang sama saat mengirimkan aplikasi tahun lalu. Sempat pasang poker face saat tahu ternyata biaya kirim sekarang mencapai 600 ribu, langsung terbayang dari mana biaya untuk mengirim 2 dokumen lain. Biaya aplikasi? Nanti dulu deh.

***

Jadi Tour Guide

Tante Nona mengabarkan kalau di akhir Januari divisinya akan berlibur ke Bandung. Saya dan Ucup bertransformasi menjadi tour guide. Seru juga bisa planning itenary buat banyak orang, cek lokasi, booking bus, dan restoran.

Banyak kejadian lucu: di Tangkuban Perahu saat rombongan menunggu anggota lain di puncak dalam shuttle minibus, pengunjung lain sempat membatalkan niatnya untuk masuk ke kendaraan yang sama ketika mereka ‘disapa’ oleh rombongan – yang kemudian cekikikan dengan puasnya.

Pucuk, pucuk, pucuk.
Pucuk, pucuk, pucuk.

Jika dilihat dari luar, packagingnya memang seram; tapi kalau sudah kenal, mereka orang yang sangat ramah dan lucu. Kami melewati kemacetan dengan karaoke dengan hebohnya di dalam bus, sampai2 bus sebelah menonton dan memberikan jempol sembari tertawa terbahak-bahak, layaknya menyaksikan konser dangdut.

Selain itu ada fotografer yang mengejar-ngejar dari hotel sampai restoran, selama dua hari untuk menawarkan foto yang telah dicetak. Setelah hampir menyerah dan memberi potongan harga, dari harga yang sebenarnya mahal, akhirnya rombongan membeli foto dari pejuang shutter ini.

Saya dan Ucup tidak menyangka dapat rezeki tambahan dari yang awalnya hanya niat menemani jalan-jalan. Alhamdulillah, jadi ada dana untuk membayar aplikasi dan biaya pengiriman dokumen.

Makan ronde satu selesai
Makan ronde satu selesai

***

EMS

Untuk aplikasi EIT ICT Lab, saya mencoba menggunakan jasa EMS Pos Indonesia. Awalnya sempat tidak yakin, setelah mendengar rumor-rumor tentang pengiriman dokumen luar negeri via PT. Pos, apalagi dokumen tersebut isinya adalah recommendation letter yang kalau hilang bakal repot untuk memintanya kembali.

Saya mengirimkan dokumen tersebut di Kantor Pos Bandung, di dekat Masjid Raya. Ternyata tarif EMS ke Swedia hanya sekitar sepertiga dari DHL; dan 5 hari kemudian dokumen saya sudah sampai ke sekretariat Uniadmission! Awesome.

Teringat kembali saat itu, mendekati deadline, saya meminta rekomendasi ke dr. Tauhid, kebetulan beliau orang yang sibuk dan waktu itu dalam keadaan kurang sehat. Sempat estafet flashdisk yang berisi surat motivasi dengan adik kelas, Angga, di Jl. Buah Batu. Kebetulan dia baru saja bertemu dengan dr. Tauhid.

Pembayaran admission fee dapat dilakukan dengan wire transfer atau credit card. Pilihan pertama, selain akan ada fee tambahan, akan memakan waktu yang lebih lama. Saya mencoba meminjam cc teman yang saya pinjam saat pembayaran aplikasi tahun lalu, sayangnya kartunya sudah mencapai limit pada bulan tersebut.

Alhamdulillah, ada teman sekelas yang punya cc dan mau meminjamkan, tapi dalam proses pembayaran, diperlukan konfirmasi yang dikirimkan ke nomor hp yang tersambung dengan account cc tersebut; nomor hp dia yang sudah hangus.

Setelah gagal beberapa kali, saya mencoba kontak sepupu. Untungnya cc suami dia bisa digunakan untuk membayar. Penghasilan dari tour guide akhirnya bisa berguna, selain itu bisa digunakan untuk membeli buku-buku idaman. 🙂
Tapi belum bisa untuk operasi gigi.

***

Saya juga menggunakan EMS untuk submit aplikasi ke Uni di Finland. Beberapa hari setelah mengirimkan berkas, tiba-tiba di group FB Komunitas Beasiswa IT Telkom, ada seorang teman, Ka Uun dan Andis, yang share informasi tentang GATE ke saya. Senangnya lagi ada universitas tujuan saya di Finlandia dalam project GATE! Benar benar gak nyangka, kalau ada project EM untuk jurusan HCI-related. Finally.
Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s