Mei 2013 – A Year Ago


Setelah menjatuhkan pilihan ke UTA dan EM, saya jadi bisa fokus untuk persiapan aplikasi residence permit. Untungnya apply RP ke Finlandia mudah jika dibandingkan dengan negara lain di benua biru. Pada kasus saya, dokumen yang diperlukan: form OLE_OPI yang sudah terisi, LoA dari universitas, asuransi, statement keuangan berupa surat beasiswa, dan foto.

Cara applynya juga mudah, karena bisa apply dari e-service, kemudian tinggal datang ke Finnish Embassy untuk diambil data biometric.

Walaupun menurut website migri pelayanan untuk student residence permit diprioritaskan, namun juga ada keterangan kalau saat summer adalah musim ramai2nya aplikasi permit; karena itu saya harus segera mulai untuk melengkapi dokumen yang dibutuhkan. Sayangnya, mayoritas dari dokumen resmi tersebut belum tersedia, karena sedang diselesaikan oleh pihak GATE dan UTA.

Langkah yg selanjutnya dilakukan, walaupun agak berat, adalah untuk decilne offer dari EIT ICT Lab dan KTH. EIT mempunyai halaman web untuk membalas offer yang ditawarkan; cukup unik, karena biasanya saat decline offer saya harus merangkai kata dan mengirimkannya via email. Sedangkan untuk KTH, pelepasan kesempatan yg didapat saya kirimkan melalui email.

Salau satu karakteristik yang dimiliki oleh kota-kota di eropa, khususnya Finlandia, adalah tantangan untuk mencari tempat tinggal yang terjangkau (biaya dan jarak ke kampus). Terlebih lagi di saat ramai, seperti di sekitar bulan Agustus. Uniknya di Finlandia, ada penyedia housing yang dikhususkan untuk student, untuk Tampere ada TOAS (Tampereen seudun opiskelija-asuntosäätiö). Di kota lain, misalnya Helsinki, ada HOAS.

Sebagai pelajar yang baru diterima, dan sedang berdomisili di luar Finland, disarankan untuk apply secepat mungkin, karena keterbatasan properti jika dibandingkan demand yang ada. Berbeda dengan sistem kost yang bisa cek lokasi dulu, kalau cocok deal. Di sini ruangan yang nantinya kita sewa ditawarkan berdasarkan ketersediaan.

Untuk apply pertama kali, diwajibkan untuk mengirimkan deposit ke rekening TOAS. Teringat tentang biaya transfer dari Bank di Indonesia yang kemungkinan bisa sangat mahal, saya meminta bantuan ke teman yang sudah berada di Finlandia untuk transfer ke TOAS. Alhamdulillah lancar dan beberapa hari kemudian aplikasi untuk housing sudah diconfirm, tinggal menunggu tempat yang tersedia.

Manfaat besar dari edukasi online

Sembari menunggu dokumen yang dibutuhkan untuk apply RP, saya melanjutkan course online yang sedang berjalan: HCI di Coursera dan Crash Course on Creativity di Venture Lab.

Dalam pelaksanaan course HCI, kami mendapatkan lincese gratis Balsamiq selama sekitar satu tahun. Selain itu ada opsi untuk menggunakan Axure, yang mempunyai educational license. Sempat bingung juga, karena status saya sudah diterima di UTA, namun belum mulai kuliah. Untungnya pihak Axure berbaik hati untuk memberikan license nya. Enaknya mempunyai status student, banyak diskon dan gratisan.

Course creativity juga tidak kalah seru, karena bisa berkolaborasi dengan pelajar dari seluruh dunia dengan berbagai background. Kami menggunakan Skype sebagai wadah untuk komunikasi. Sempat bingung juga, karena saya tidak pernah menggunakan Skype sebelumnya. Salah satu assignment yang kami kerjakan adalah menemukan sudut pandang atau value baru dari sebuah benda sehari hari.

Banyak tantangan bekerja sama dengan tim yang mempunyai banyak background. Apa yang menurut kita baik dan efisien, belum tentu baik menurut pandangan mereka. Begitu juga sebaliknya, dan hal ini yang bisa membuat ide berkembang ke arah yang tidak terduga dan menghasilkan keluaran yang menarik. Saya mendapatkan bagian untuk mencari pro dan cons dari benda tersebut. Lebih serunya lagi, soundtrack presentasi yang kami susun diisi oleh lagu original salah satu member tim.

Biasanya saya mengerjakan assignment di DMC karena suasananya enak dan ramai. Banyak anggota maupun non anggota lab main ke sini, mengerjakan tugas, atau menyelesaikan TA nya. Lumayan teringat masa masa kuliah dan perjuangan TA dulu. Untungnya beberapa anggota lab mau saya ganggu sebentar untuk jadi participant dalam course HCI di Coursera.

Enaknya hidup pas-pasan

Project-project alhamdulillah lancar jaya. Project ‘nekat’ iOS yang diambil juga seru, rasanya benar-benar menyenangkan saat berhasil porting aplikasi ke iPhone dan iPad; padahal aplikasinya simple saja, dan Arie yang lebih banyak memberikan kontribusi untuk memecahkan permasalahan di project ini. Payment nya juga lancar jaya, pemasukan dari project ini langsung saya alokasikan untuk persiapan trip ke Karimun Jawa, akhirnya!

Rencananya tanggal 20 Mei ingin jalan2 ke karimun jawa bersama teman2 startup. Sebelum itu saya pulang dulu ke rumah pada hari Jum’at 17 Mei untuk persiapan logistik dan kumpul dengan teman kelas pada hari Sabtunya, kemudian rencana kembali ke Bandung pada hari Minggu. Perjalanan Bandung-Bekasi pada hari itu sangat lancar. Karena pagi hari dan melawan arus macet, tutup mata saat bus sudah melewati Pintu Tol Pasir Koja; bangun-bangun lihat hp dan jendela bus dengan tersenyum, sudah sampai daerah Bekasi saja.

Alhamdulillah, walaupun rezeki pas-pasan; seperti yang telah diceritakan diatas, saat lagi butuh, pas banget dana project cair. Langsung hunting carrier yang agak kecil, sekalian rencanya carrier tersebut dipakai untuk eurotrip nanti.

Obrolan malam di teras

Biasanya saya lebih senang menggunakan produk lokal, seperti Consina, terlebih lagi karena gudangnya berada di daerah sekitar rumah. Namun, mereka tidak mempunyai carrier  dengan ukuran 25-28 liter yang sesuai selera. Setelah browsing di Internet, sampailah saya di website Tandike, distributor Deuter di Indonesia, ternyata tersedia banyak model dan diskon yang besar.

Kurang sreg jika hanya menatap carrier di monitor. Pada hari Sabtu saya meluncur ke Cileduk ditemani motor kesayangan. Sempat nyasar dan kebingunan karena belum pernah ke Cileduk dengan motor. Di salah satu lampu merah Jl. Cileduk Raya; saya menoleh ke kanan, ada bangunan dengan beberapa motor yang parkir di depan. Dilihat beberapa saat, ada tulisan Tandike, oalah.. Ternyata koleksi di tokonya lebih lengkap dari yang ada di web. Semakin bingung, walaupun sebelum berangkat sudah ada dua kandidat tas yang akan dipilih.

Setelah dapat tas idaman, langsung tancap gas ke Kuningan untuk kumpul dengan teman kelas. Cukup ramai, terlebih lagi ditambah dengan kehadiran teman-teman yang datang dari Bandung hanya untuk kumpul-kumpul. Rata-rata sudah bekerja dan ada juga yang merintis jalan untuk berwirausaha. Setelah makan-makan dan ngobrol sampai sore, dilanjutkan dengan karaoke di malam hari.

Kumpul IF-05 (foto dari fb teman)
Kumpul IF-05 (foto dari fb teman)

Agenda hari itu dilanjutkan dengan bertamu ke rumah teman baik sejak smp, yang besoknya akan menikah. Bersama seorang teman lagi, kami bertiga ngobrol dan tertawa di teras rumahnya. Kami sengaja datang di malam hari-H, karena sudah lama tidak reuni dan besoknya saya tidak bisa hadir di akad serta resepsi. Topik obrolan kali ini, walaupun tetap lebih banyak tertawanya, setidaknya lebih berbobot dan bermakna dibanding saat smp dulu. Sang calon pengantin bercerita tentang kisah dan perjuangannya, membuat kami introspeksi diri untuk sekarang, dan tentunya masa depan.

Hari semakin larut, karena tidak enak telah mengganggu dan mungkin mengurangi waktu istirahatnya, akhirnya kami berpamitan dan mengucapkan selamat. Salah satu maharnya bikin merinding juga, dia sempat baca Al-Muzzammil saat akad.

Sayangnya rencana untuk ke Karimun Jawa pada tanggal 20 ditunda lagi, karena beberapa teman yang awalnya ingin ikut, harus menyelesaikan amanahnya. Hanya tinggal 2 orang yang fix berangkat, kalau dipaksakan bisa-bisa rekening jadi kurus lagi.

Untungnya tidak jadi berangkat, karena pada minggu tersebut ada project meeting dan Scripthink lolos di semifinal salah satu kompetisi technopreneur. Kami langsung mempersiapkan materi presentasi, print poster, dan roll banner. Kebetulan saya yang kebagian untuk presentasi dengan Bahasa Inggris, cukup tegang dan akhirnya kacau juga menurut saya. Dan jurinya nanya pakai Bahasa Indonesia, kalau tau begitu kami sudah presentasi dengan Bahasa Indonesia dari awal 😀

Refleksi senja di Karimun

Walaupun sempat ditunda, akhirnya rencana untuk ke karjaw terealisasi juga. Pada kesempatan ini saya dan Abe yang paling semangat untuk manas2-in teman-teman untuk latihan freediving di kolam UPI dan ikut ke karjaw. Biasanya setelah latihan di sore hari, kami mampir untuk makan surabi hangat di daerah Setiabudi, maknyus.

Kami merencanakan trip selama 5 hari, termasuk perjalanan pp Bandung-Jepara. Ini layaknya short-escape bagi kami di tengah lautan kesibukan, yang berarti ada banyak tugas yang harus diselesaikan sebelum berangkat atau ditunda sementara. Ada yang sedang mengerjakan banyak project, bahkan ada yang sedang menyelesaikan TA nya, berhasil kami bujuk untuk ikut trip ke karjaw.

Satu hari sebelum keberangkatan, saya harus submit assignment terakhir Coursera di saat deadline. Pertama kalinya melakukan small scale usability testing. Prototype yang dibuat dengan Axure ditest dengan bantuan tiga orang teman dari DMC. Agak canggung juga dan seru latihan usability testing. Hal ini menjadi pengalaman penting, karena saat saya kuliah di UTA, ada course Usability Evaluation Method, setidaknya ada sedikit bekal. Selain itu juga pertama kalinya berkenalan dengan consent form dan think aloud.

Serunya assignment di Coursera adalah dengan adanya peer review. Seingat saya, saat itu peer review dibuka satu hari setelah deadline assignment, itu berarti hari yang sama dengan keberangkatan. Jadilah, setelah packing seadanya, minjem fin, kamera underwater, dll, saya langsung mengerjakan peer assignment secepat kilat; walaupun ternyata gak secepat yang dibayangkan, karena peer assignment terakhir ini cukup memakan waktu.

Singkat kata, dengan segala hiruk pikuk persiapan, hampir tidak dapat bus, karena sepertinya kami asal berangkat dan kemungkinan tidak akan menggunakan jasa tour guide di sana. Sebelum berangkat, saya dan Ucup sempat progress meeting dengan partner. Jarang-jarang kan berangkat ke meeting bawa carrier, tentunya carrier saya titip di pos satpam.

Setelah shalat maghrib di masjid dekat pool bus, akhirnya kami berangkat ke Jepara menggunakan Bus Nusantara. Ternyata bus nya sangat nyaman dan kami mendapat jatah untuk makan malam. Perjalanan juga lancar dan mulus, selama kita menutup mata dan tidak memperhatikan cara supir bus malam mengemudi, yang bisa membuat ucapan dzikir meningkat tajam.

Supir bus nya juga baik, kami diantar ke dermaga dengan menambah beberapa puluh ribu rupiah. Lumayan daripada kami berlima naik becak ke dermaga. Abe, Taufik, Acho, Ahkam, dan saya akhirnya beristirahat dan makan setelah membeli tiket ferry di dermaga tersebut. Tak disangka, 6 jam perjalanan benar-benar terasa lama, mungkin karena persepsi bahwa kapal ferry ini berjalan dengan sangat stabil dan lambat. Anehnya saya sempat mendapat sinyal dan SMS di dekat laut lepas.

Ikannya narsis ternyata (foto dari fb teman)
Ikannya narsis ternyata (foto dari fb teman)

Banyak cerita menarik dan seru tentang perjalanan kami di karimun jawa yang akan saya share di lain kesempatan, dari tour guide yang lost contact dan tiba2 nongol di dermaga sampai terkena badai di perahu. Salah satu cerita yang sempat membuat saya deg-degan saat sampai di penginapan, tas gunung yang berisi DSLR dan charger saya sempat hilang. Sebelum berangkat ke karjaw, saya memang mempunyai niat untuk melepas SLR tersebut, toh tidak ada rencana untuk membawanya ke Finlandia.

Sunset di dermaga (foto dari fb teman)
Sunset di dermaga (foto dari fb teman)

Saat kecil, guru saya pernah berpesan, jangan terlalu mencintai benda ataupun makhluk. Karena Allah akan mengambil apa yang kamu cintai. Mungkin harus hati-hati dalam memahami kata-kata beliau. Tapi apapun itu, pada hakikatnya kita memang tidak punya apa apa. Toh semua hal yang kita ‘miliki’ hanya titipan semata, yang jika pemiliknya menginginkannya kembali, sudah selayaknya kita mengembalikannya dan berterima kasih kepada-Nya yang telah mempercayakan hal tersebut kepada kita.

Mungkin memang di karjaw tempat saya berpisah dengan kamera yang telah saya idamkan bertahun-tahun itu. Namun, saat hati sudah benar-benar melepas, esok paginya kami mencoba untuk pergi ke kapal ferry yang mengantarkan kami sampai. Di saat-saat kapal ferry tersebut akan berangkat, kami sempat menanyakan perihal tas ke kru kapal. Ternyata mereka dengan baik hati menjaga tas tersebut. Alhamdulillah. Senyum lega terlihat di wajah saya dan seorang teman saat berfoto dengan ‘pahlawan’ kami. Benar-benar injury time, telat 5 menit saja ferry tersebut sudah bertolak ke Jepara.

“Nanti di Eropa gak ada yg kayak gini ka”, kata seorang teman saat perjalanan pulang ke pulau Karimun dari spot snorkeling. Pikiran saya kembali melayang, ditemani refleksi matahari senja di permukaan laut yang tenang, bergerak teratur bersama gelombang dari kapal yang kami tumpangi. Alhamdulillah,  kami telah diberi kesempatan untuk mengunjungi karimun jawa. Alhamdulillah kami dilahirkan dan besar di Indonesia dengan alam yang begitu indah.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s