Juni 2013 – A Year Ago


Setelah puas liburan di Karimun Jawa, kami berjibaku menyelesaikan project-project, terlebih lagi akan masuk bulan puasa dalam waktu beberapa minggu. Karena itu, hampir setiap minggu kami harus laporan ke project partner dan melakukan iterasi dengan project yang sedang dikerjakan. Pengalaman berharga saat progress meeting dengan partner yang memiliki berbagai latar belakang pengetahuan tentunya akan berguna saat melanjutkan kuliah di bidang HCI yang multidisiplin.

Bukannya HCI atau lebih luasnya UX itu fokus di User Interface saja ya? Eits, sebentar dulu, memang masih banyak miskonsepsi akan cakupan UX, bukan hanya di Indonesia, di Eropa juga begitu. Hal ini disebabkan nature UX yang memang masih muda, ringkasnya, jati dirinya masih ‘dalam proses pencarian.’

Intinya ada 3 project yg dikerjakan dalam waktu sekaligus, projectnya seru dan tentunya bisa membantu menyambung hidup. Selain mengerjakan project, kuliah online juga tetap berjalan. Alhamdulillah, sertifikat HCI di Coursera akhirnya keluar ditandai dengan sebuah email yang masuk di inbox. Bersama email itu, mereka juga mengirimkan rekomendasi course lain, yang ternyata tidak kalah seru: Creative Programming for Digital Media & Mobile Apps.

Di course tersebut kami bermain membuat apps multimedia dengan Processing. Tools yang akhirnya saya gunakan di beberapa project kuliah. Walaupun tidak terlalu mendalami programming, tapi topik multimedia membuat proses ngoding menjadi jauh lebih menyenangkan dari biasanya.

Kebetulan di bulan ini saya juga mendapatkan email tentang informasi conference Interaction14 di Amsterdam. Tanpa pikir panjang, tiket terusan untuk student langsung saya pesan karena diskonnya sangat besar, harganya menjadi hampir seperempat dari harga normal. Dengan bantuan credit card Donni, alhamdulillah tiket berhasil dipesan. Tinggal mikir bayarnya gimana nanti hehe. Tempat tinggal insya Allah aman, karena ada Ka Said yang sedang kuliah di UVA.

Bonus Kembalian dari Embassy Finland

Dokumen LoA asli sudah tiba di rumah, karena itu pada awal minggu ketiga bulan ini saya datang ke Embassy Finland untuk mengurus residence permit. Karena sudah apply via web, saya datang untuk menyerahkan/menunjukkan seluruh dokumen asli, membayar processing fee secara cash, dan submit data biometrik seperti sidik jari.

Dalam perjalanan ke daerah Kuningan, sempat buat pasfoto dulu di daerah Tebet. Sesampainya di lantai dasar di Kuningan, saya sempat heran saat ditanya oleh security apakah sudah buat perjanjian atau belum. Dengan muka polos saya berkata “He? perjanjian? belum.. emang perlu ya?”

Memang kedatangan saya ke kedutaan tanpa buat appointment terlebih dahulu, karena saat itu di website kedutaan tidak ada keterangan tentang keharusan membuat appointment saat mengurus residence permit. Semakin mantaplah asumsi saya bahwa bisa langsung datang tanpa harus membuat appointment.

Untungnya saat itu, mungkin, keadaan sedang sepi jadi saya boleh langsung naik ke Embassy Finland, yang ternyata berada satu lantai dengan Embassy Sweden. Jadi saat keluar lift, di depan ada meja security lagi, di bagian kanan Embassy Finland, di kiri ada Swedia.

Untuk masuk ke Embassy harus tekan bel terlebih dahulu, kemudian orang dari dalam membukakan electric lock yang memungkinkan kita untuk membuka pintu. Hari itu sekitar jam 10:30, sepi, ternyata saya satu-satunya orang yg mengurus permit/visa pada pagi itu. Berbeda dengan keadaan di seberang yang sudah menampakkan antrian orang-orang. Nampaknya proses hari ini akan berjalan cepat, perkiraan saya tentunya lebih cepat dari apply visa di kedutaan US.

Hal yang cukup membuat saya canggung adalah dompet saya tidak bisa dilipat karena membawa uang cash senilai 250-300 euro yang dirupiahkan dengan kombinasi 50 dan 100 ribu rupiah; khawatir kalau nanti tidak bisa menggunakan debet.

Setelah menyerahkan dokumen yang diperlukan, saat membayar, sebagian uang malah dikembalikan… loh? ada apa ini?

Ternyata ada perbedaan informasi di website dan pricelist yang tertempel di kedutaan. Jika saat itu di website, seingat saya harus membayar 300 EUR, maka tulisan yang terpampang di kedutaan adalah 250 EUR atau Rp.2,5jt (mereka menggunakan kurs 1 EUR = Rp.10k)

Saya sempat protes dan berkata kalau saya baca di website biayanya adalah 300 EUR. Namun Ibu yang baik hati berkata, kita berpatokan pada harga yg ada di pricelist yg ditempel tersebut. Entah sedang beruntung atau apa, intinya Alhamdulillah, bisa hemat uang lumayan banyak πŸ™‚

Setelah diberikan kwitansi, kami menunggu giliran untuk ambil sidik jari dan input data. Sampai jam 12, saya dan bapak pergi dulu ke masjid di belakang Ambassador, dilanjutkan dengan makan siang.

Kembali ke kedutaan sekitar pukul 13:00, kami menunggu lagi. Jam di feature phone saya sudah menunjukkan angka 14:00 tapi masih belum ada pergerakan ataupun panggilan dari sang Ibu baik hati tersebut. Akhirnya kami tahu bahwa ada masalah dengan system untuk apply, dan orang yang mengerti sistemnya (orang Finnish) sedang keluar.

30 menit kemudian, sang staff Finnish tersebut masuk ke ruangan beserta anaknya yang lucu. Akhirnya datang juga. Kurang dari 10 menit proses input dan scan sidik jadi selesai.

Proses applynya cukup mudah, saya akan dihubungi jika ada hambatan atau residence permit sudah jadi dan siap diambil. Jika tidak ada masalah sistem seperti tadi dan tidak ada antrian, mungkin proses di kedutaan hanya memakan waktu sekitar 30 menit.

Pindah ‘Rumah’

Saatnya kembali ke Bandung untuk menyelesaikan project bersama teman-teman. Namun, pada saat itu DMC, tempat saya biasa ‘numpang’ sudah tidak seramai yang dulu, mungkin para anggota lab sedang disibukkan oleh ujian dan sebagian besar sudah siap sidang. Sebagai orang yang numpang, kurang enak juga kalau tidak ada tuan rumahnya. Akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke lantai 3, ‘rumah’ asal saya, di IF Lab, kebetulan masa praktikum sudah selesai.

Sembari mengerjakan project, ada informasi bahwa pada weekend tersebut Erasmus Mundus buka stand di Career and Scholarship Fair di ITB. Karena kebetulan ada di Bandung, saya memutuskan untuk mampir dan bantu teman-teman yang ada di sana: ada Ibu Destriani, Putri, dan Mba Novi.

Menarik juga, karena pada akhir tahun lalu saya yang datang sebagai peserta pameran, kali ini bertukar peran sebagai orang yang membantu menyebarkan informasi tentang EM. Senang rasanya melihat antusiasme teman-teman yang ingin melanjutkan pendidikan di Eropa. Insya Allah ada jalannya jika memang ingin berusaha maksimal. Kebetulan juga pada hari itu ada Meetup Startup Asia di ITB, jadi satu hari bisa datang di dua event yang bagus.

Bersama volunteer di stand Erasmus Mundus
Bersama volunteer dan seorang pengunjung di stand Erasmus Mundus (foto dari kamera teman)

Perpisahan di Awal

Sehari sebelumnya, hari Jum’at malam, saat sedang santai di lab mendengarkan rintik gerimis. Teman-teman DMC mengajak untuk makan di luar, karena kantong sedang tipis, sebenarnya saya lebih memilih untuk berhemat dengan memesan munjul atau makan di warteg.

Namun, akhirnya saya terbujuk untuk ikut, dengan syarat, makannya di Kambing Bakar Cairo yang katanya terenak nomor dua setimur tengah (plus pinjam uang dulu kalau dompet saya gak ngangkat hehe). Dari dulu memang penasaran makan di sini, mumpung bareng teman-teman, dan kebetulan tidak akan lama lagi pergi ke Finland, akhirnya kami berangkat ke tempat makan yang terletak di sekitar seberang Horison tersebut.

Sesuai dugaan tempatnya dan makanannya enak sekali, sayangnya porsinya terbilang cukup sedikit bahkan bagi ukuran saya yang biasanya pesan nasi setengah porsi di warung. Di luar dugaan, teman yang awalnya saya niatkan untuk pinjam uang, malah mentraktir kami semua. Alhamdulillah.

Saat itu, ada sekitar 5-6 orang anggota DMC yang berangkat. Di sela-sela obrolan sempat tercetuk kalau mulai weekend ini mayoritas anak-anak akan mudik dan akan kembali di awal bulan September. Berarti kemungkinan besar saya tidak bisa mengajak mayoritas anggota lab untuk makan-makan sebelum berangkat.

Sempat merasa bersalah juga karena saya belum cerita atau update ke semua teman-teman di lab, bahkan mayoritas tim dan teman kelas, bahwa telah diterima beasiswa EM. Hal ini dikarenakan saya ingin mengabarkan kabar gembira tersebut setelah residence permit keluar.

Walhasil, secara dadakan, diantara kesibukan mereka akhirnya teman-teman lab mengarrange makan-makan di hari Minggu. Diantara kurang enak hati dan terharu, karena undangan dadakan, selain itu banyak yang berangkat langsung dari upgrading kepanitiaan, ada juga yang harus berangkat mudik malam itu juga; tapi mereka tetap menyempatkan untuk datang.

Siang harinya kebetulan orang tua telepon dan saya menyampaikan kalau nanti malam ingin ajak teman lab makan-makan untuk perpisahan. Tanpa disangka beberapa saat kemudian ada sms dari orang tua, bahwa mereka telah transfer sejumlah uang ke rekening, saya belum cek jumlahnya. Alhamdulillah, pas kantong lagi tipis, feeling seorang Ibu memang peka, tau aja hehe.

Seharusnya saya memberi kabar lebih cepat, tapi terima kasih yg sudah menyempatkan datang dan yg belum sempat datang serta mengirimkan SMS. Karena, mayoritas teman-teman akan mudik dan meninggalkan Bandung, sedangkan saya masih menyelesaikan project, kok kesannya terbalik, malah saya yang melepas kepergian mereka πŸ™‚

Uniknya, saat membayar tagihan di Abuba, kisaran saya rekening saat itu tidak akan sampai karena uang project belum cair; sudah hampir menawarkan bantuan tenaga cuci piring dan ngepel lantai ke mereka :). Dengan modal bismillah dan harap-harap cemas, kartu debet andalan saya berikan ke kasir. Tapi alhamdulillah, saat digesek, transaksinya lancar. Lebih beruntung lagi, saat saya cek lewat ebanking, nominal yang ditransfer oleh orang tua tidak berbeda jauh dengan tagihan. Sempat senyum dan geleng-geleng sendiri, alhamdulillah.

Bersama teman-teman DMC sebelum mudik.
Bersama teman-teman DMC sebelum mudik.

Trento atau Tampere?

Sepulang dari makan-makan, ada dua tugas menanti: assignment programming di coursera dan deadline untuk submit summer school di Trento. Sebenarnya deadline dijadwalkan pada hari itu jam 23:59, tapi kita diuntungkan karena berada di GMT+7. Jadi ada bonus waktu 7 jam, tapi untuk tugas yang kedua, deadline nya berdasarkan GMT+3, jadi maksimum saya submit dokumen adalah jam 4 pagi.

Walaupun belum pasti bisa berangkat dan masih belum yakin tentang tema summer school, ditambah agak minder jika harus berkolaborasi dengan mayoritas mahasiswa doktor, saya memutuskan untuk coba apply summer school ini. Toh tidak ada salahnya. Kebetulan ini adalah program dari EIT ICT Lab juga.

Ditemani secangkir kopi dan irama pencetan stik teman IF Lab yang begadang bermain game, akhirnya saya berhasil submit dokumen tersebut pada hari Senin jam 2:13 dini hari. Benar-benar nothing to lose. Setelah cuci muka, saya lanjutkan hari itu untuk menyelesaikan dan submit tugas Coursera.

Seminggu kemudian, tanggal 25 Juni, ada berita gembira dari Trento RISE bahwa aplikasi saya diterima. Alhamdulillah (lagi-lagi!)

Email dari panitia summer school
Email dari panitia summer school

Namun, ada satu permasalahan, summer school tersebut akan diadakan pada minggu pertama perkuliahan. Pentingnya minggu pertama sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Apakah saya harus melepas tawaran summer school beserta grant transportasi dan akomodasi tersebut?

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s