Juli 2013 – A Year Ago


Saya akan masuk ke ruangan, memasang raut muka dan senyum saya yang paling baik, kemudian berkata “Ibuu! Terima kasih. Alhamdulillah akhirnya tahun ini aku insya Allah lanjut kuliah di luar”, dan kemudian tersenyum lagi.

Saya harus izin terlebih dahulu untuk ikut summer school ke dua pihak : koordinator program dan koordinator international office. Hal ini disebabkan waktunya yang bentrok dengan minggu pertama kuliah. Untungnya respon dari koordinator IO cepat dan positif, sedangkan balasan otomatis dari email koordinator program menyatakan bahwa beliau sedang liburan. Berdasarkan respon tersebut, saya langsung konfirmasi kehadiran untuk datang ke summer school di Trento.

Selain project untuk menjaga dapur tetap ngebul dan belajar course online; banyak juga project iseng yang dilakukan bersama teman-teman, dari buat video sampai bantuin buat slide sidang teman. Sangat menyenangkan karena sudah lama tidak buat slide dan video untuk lomba; ditambah kita bisa bereksperimen dengan permasalahan baru dan mencoba merancang solusi design yang lain dari biasanya.

Pre-deperture EM

Pada awal bulan Juli, ada acara yang telah dinanti sejak lama: pre-departure Erasmus Mundus! Bersama 120 lebih awardees tahun ini, kami diundang untuk diberi bekal dan silaturahmi sesama awardees dan alumni sebelum puasa. Orang tua dan kerabat juga diundang pada sesi pagi hari, dilanjutkan acara khusus awardees dari siang sampai selesai.

Di acara ini saya bertemu Pepri, teman yang nantinya akan exchange ke UTA juga, dan awardees dari program GATE dan yang lain. Ternyata ada yang berangkat ke Chalmers juga lho. Sayangnya, hampir tidak ada alumni yang pernah studi ke Finland yang hadir saat itu, jadi tidak bisa menanyakan lebih jauh tentang pengalaman mereka di negara yang sudah mepet dengan kutub ini.

Walaupun begitu, share informasi dari alumni lain juga sangat menginspirasi; selain dari kepribadian dan cara mereka bercerita yang sangat seru. Obrolan pun berlanjut sampai selesai makan malam, para alumni mengajak kami untuk lanjut nonton atau karaoke. Namun, saya sudah terlalu lelah, karena malam kemarin baru saja pulang dari Bandung setelah lanjut project dan bantu teman; dan sebelum ke acara EM paginya menyempatkan mampir ke akad Mba Kania dan Ka Uun. BarakAllaahu fiik, kayaknya anaknya bakal super banget ini 🙂

Perjalanan ke rumah di malam sebelumnya juga cukup unik. Karena banyak teman-teman yang ingin datang ke akad, ada beberapa teman yang bawa mobil, bahkan menyewa bus untuk berangkat ke Bintaro.

Saya yang biasanya pulang dengan bus, akhirnya memutuskan untuk pulang bersama teman (Sidi, orang yang sama di cerita tentang elang dan sendal hehe). Sayangnya, mobil dia hanya muat lima orang; sedangkan saya orang yang ke enam dan bukan ‘tangan pertama’ (diajak orang yang juga nebeng ke Sidi). Ditambah waktunya yang dadakan, baru dapat info di sore hari; ga ada kontak Sidi, pas dapat tidak bisa dihubungi, gerimis, ga tau rumah Sidi, kalaupun tau rumah Sidi, belum ada teman yg available untuk nganter; dan sudah masuk waktu isya, jadwal bus ke KHI sudah habis. :))

Untungnya, selepas shalat isya, ada telpon masuk dari nomor Sidi yang menyatakan kalau saya masih bisa ikut, dan mereka menunggu di rumahnya yang dekat dengan plang aa boxer. Alhamdulillah, ada Donni yang bisa mengantar dan tau jalan ke sini. Yang disayangkan adalah teman yang mengajak saya batal ikut karena tidak bisa masuk kosan. Pintu kosannya dikunci dari dalam, tidak dicabut, dan temannya tertidur, sedangkan dia sudah teriak dan menelpon hp temannya.

Sesampainya di rumah Sidi, ada Catur, Anto, dan kalau tidak salah Hudi. Senang sekali karena sudah lama tidak berjumpa dengan mereka. Ternyata, di sana kami ngobrol-ngobrol dulu dan akan menaruh mobil Sidi di UPI, kemudian berganti mobil dengan mobil Demsy menuju Jakarta. Mata saya sudah 5 watt karena beberapa hari sebelumnya sudah begadang untuk menyelesaikan pekerjaan.

Sembari menunggu Demsy datang di UPI, Catur dan Anto sempat membahas bahasan menarik tentang seminar beberapa waktu lalu tentang seorang wanita yang fokus menjadi pengurus anaknya, dari situlah saya pertama kali mendengar istilah ibu professional. Akhirnya Demsy datang dan kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 23:00. Untungnya masih ada tukang ojek yang beroperasi, meskipun waktu sudah lewat tengah malam.

EM Awardees
EM Awardees. Unreal!

Terlambat

Akhirnya masuk di Bulan Ramadhan. Awalnya saya berniat untuk puasa full di rumah, namun karena beberapa pekerjaan belum terselesaikan, ujung-ujungnya mayoritas hari pada bulan ini dihabiskan di Bandung.

Karena dalam waktu satu bulan saya sudah berangkat, maka saaatnya perpisahan dengan teman-teman. Banyak teman-teman yg berhasil ditemui, namun sayangnya banyak juga orang yang belum berhasil ditemui pada saat itu.

Aslab 3 generasi bersama Ka.Bengkel yg super!
Aslab 3 generasi bersama Ka.Bengkel yg super!
Qronis, minus Arie
Qronis, minus Arie

Salah satu orang yang sangat ingin saya temui ada di kampus ini, beliau telah banyak membantu perkembangan saya dan selalu memberikan support dalam banyak hal di kampus ini.

Satu minggu setelah acara predep EM, di hari Jum’at sore tanggal 12 Juli, saya berpapasan dengan Pak Tatang. Kebetulan juga sudah lama tidak mampir ke BK, terlebih lagi memberi tahu kabar bahagia ini ke orang-orang yang bekerja keras di sana. Hari Senin minggu depannya saya berencana untuk pergi ke sana. Pasti menyenangkan bertemu mereka!

Saya akan masuk ke ruangan, memasang raut muka dan senyum saya yang paling baik, kemudian berkata “Ibuu! Terima kasih. Alhamdulillah akhirnya tahun ini aku insya Allah lanjut kuliah di luar”; kemudian tersenyum lagi dan melanjutkan cerita lebih detail.

Namun sepertinya bayangan tersebut tidak akan menjadi kenyataan. Karena setelah perpisahan dengan asisten lab pada hari Sabtu, keesokan harinya saya mendapatkan berita yang sempat membuat saya blank…

...

Karena memang orangnya tertutup, saya tidak biasa untuk share semua keadaan dan berita. Walaupun saya share, hanya ke orang tertentu dan hanya perihal tertentu.

Efeknya, baik ataupun buruk, tidak semua orang bisa menyadari apa yang sebenarnya saya alami; atau jika pada suatu kesempatan tanpa disadari sudah ada suatu pikiran yang masuk di dalam benak saya. Hal itulah yang sempat mengambil porsi pikiran saya beberapa bulan terakhir.

Hal yang paling buat saya menyesal kenapa tidak memberikan kabar ke beliau dari dulu… Orang yang baik hati dan selalu membawa keceriaan, sangat baik pada saya, walaupun sering masuk ke BK dengan kaos, jeans, dan sendal jepit 🙂
Semoga arwahmu tenang di sisi Allah SWT dan diberikan tempat yang paling baik. Terima kasih Ibu. Akhirnya saya bisa lanjut kuliah.

Dunia

Beberapa persiapan lain yang dilakukan sebelum berangkat adalah menjual salah satu barang yang dicintai, kamera slr. Walaupun kamera ini adalah kamera impian yang sudah didambakan sejak awal masuk kuliah, dan baru bisa terbeli di akhir tahun kuliah; telah ikut ke benua lain dan puncak pertama yang saya daki. Tapi saya berusaha berlatih untuk merelakan sesuatu yang paling dicintai. Yang dimana tujuan akhirnya untuk melepaskan kecintaan terhadap dunia.

Saatnya merelakan teman yang telah menemani perjuangan
Saatnya merelakan teman yang telah menemani perjuangan

Karena sudah mempunyai laptop, tab hadiah juga menjadi barang yang dijual. Diantara kesibukannya, saya mendapat pertolongan dari seorang teman yang juga artist berbakat untuk mengambil gambar tab tersebut. Proses sesi fotonya sangat seru. Alhamdulillah kedua barang tersebut bisa laku.

Salah satu penampakan hasil sesi foto tersebut
Salah satu penampakan hasil sesi foto tersebut

Sebelum berangkat, tentunya kurang sreg kalau belum bertemu dengan Pak AT dan Pak Heru. Setelah siangnya pamit dengan Pak Maman dan Pak Adi, sore harinya saya menuju Learning Center. Kebetulan rapat baru selesai diadakan, Pak Heru dan satu orang dari IF berdiri di depan ruang rapat. Entah kenapa, rasanya lebih hangat bertemu dengan Pak AT dan Pak Heru daripada orang fakultas sendiri.

Saya langsung mengucapkan salam dan nyelonong masuk ke ruangan Pak AT yang kebetulan tidak ada tamu, sepertinya. Beliau share cerita hidupnya, yang intinya benar2 percaya kepada Allah. Selain mentor saya, Pak Tauhid, orang ini adalah orang yg berkharisma yg bisa membuat saya merasa ‘capek’ saat ngobrol. Karena terlalu banyak informasi berguna, sampai ga muat mau ditaro di mana lagi, overwhelming!

Beberapa pesan penutup dari beliau bahwa Tuhan mau dimana tetap sama, baik di Eropa dan di Indonesia. Pak AT juga menyadarkan saya bahwa masih banyak hal jauh lebih penting untuk dijadikan prioritas, misalnya berjuang untuk kemajuan negara. Rasanya seperti dibaca pikiran saat ngobrol dengan beliau.

IF Lab 'berkunjung' ke HDL
IF Lab ‘berkunjung’ ke HDL

Setelah mayoritas urusan yg diselesaikan di Bandung, saatnya pulang for good ke rumah untuk mempersiapkan lebaran dan keberangkatan. Sebelum itu, sempet ada traktiran dari biboy, lumayan untuk puas-puasin lidah untuk merasakan cita rasa masakan seafood Indonesia. Di perjalanan pulang sempat cerita kebingungan ke seorang teman. Sepertinya memang belum saatnya atau jalannya. Dalam perjalanan saat di atas jembatan Surapati, dia bertanya “Udah istikharah belum cuy?”
Astaghfirullaah. Laa ilaa ha illaa anta. Subhaanaka. Innii kuntu minazzaalimiin.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s