Post-Winter Escape


30 hari winter escape telah berlalu, atau lebih tepatnya lari dari kenyataan harus mengerjakan thesis.

Arti perjalanan kali ini bagi saya sederhana, yaitu silaturahmi dengan orang orang yang sudah dikenal di dunia nyata, atau yang baru bertemu di dunia maya. Rencana awal selain silaturahmi adalah mencari inspirasi dan ketenangan untuk mengerjakan thesis (yang ternyata hanya efektif beberapa hari pertama). Menurut saya silaturahmi lebih penting dari sightseeing, apalagi belanja (jalan ngirit), karena kita bisa belajar banyak dari kisah orang yang ditemui- baik yang mereka katakan secara eksplisit, maupun implisit.

Meskipun karena satu dan lain hal ada beberapa orang yang tidak bisa saya temui, namun kali ini saya bertemu dengan banyak orang dengan berbagai macam cerita dan kisah yang menginspirasi. Untungnya lebih dari inspirasi thesis, yaitu inspirasi dalam menjalani kehidupan.

Pertemuan kembali dengan senior yang menginspirasi, terpisah jauh dari istrinya dan sedang berjuang menyelesaikan thesis.Seorang ekspat yang sangat ramah, dengan masakannya yang super lezat dibumbui cerita-cerita lucunya. Lekker. Pertemuan dengan senior yang beberapa bulan lalu menggambarkan hampanya hidup saat istri di Indonesia; yang sekarang telah sempurna senyumnya saat ditemani sang belahan jiwa.

Obrolan malam di kedai pizza halal super murah, yang aroma hidangannya melekat di jaket sampai beberapa hari kemudian. Bersama seorang kandidat PhD hebat yang telah melanglang buana ke Jerman dan Korea Selatan; di saat mayoritas orang telah libur natal dan tahun baru dia masih sempat eksperimen di lab.

5 euro porsi habis bajak sawah
5 euro porsi habis bajak sawah

Makan siang roti dengan Tante Idja sekeluarga yang sedang mempersiapkan christmas dinner untuk keluarga besarnya. Tidak disangka, ternyata lunch nya benar-benar roti aja. Melihat Ayla yang semakin pintar, namun tetap belum bisa ngobrol dengan dia karena saya tidak bisa Dutch. Opa Ayla yang sempat-sempatnya baca buku di meja makan. Cara Om Fer menjelaskan penggabungan warna ke Ayla saat dia menggoyang-goyangkan kuas, dan ekspresinya saat dia bisa mencampur warna tersebut sangat menyenangkan untuk dilihat.

Pertemuan di lapangan futsal yang berlanjut di restoran turki dengan orang-orang Indo di Amsterdam, membuat rencana travelling hemat menjadi sedikit terganggu. Seorang makassar yang pernah besar di ambon, bule dengan logat jawa, dan programmer java bergamis, sepatu kets dan main hp di metro.

Pertemuan dengan bangunan masjid dan jamaah yang ramai, brother dari berbagai negara, termasuk keturunan Indo-Suriname yang sangat baik hati. Diundang ke rumah mereka dan makan malam. Serta esoknya bepergian bersama anaknya dan Ka Said ke bazaar di Beverwijk, rasanya seperti pasar di Indo atau grand bazaar di Istanbul. Hasrat buat makan baklava terpenuhi, dengan harga yang relatif murah. Kebetulan yang jual adalah orang Turki yang mempunyai paman yang ngurus sekolah Turki di indo, namun dia dan saya tidak tahu nama sekolah tersebut. Di bazaar itu juga ada pizza super besar dan enak.

Pizzanya selebar meja untuk dua orang
Pizzanya selebar meja untuk dua orang

Museum Multatuli, nama yang tidak asing di telinga, karena pernah dibaca di buku sejarah. Serta ferry gratis dari belakang Amsterdam Centraal. Dari port tersebut terlihat EYE museum, di underground museum tersebut ada pameran gratis tentang sejarah film. Di lokasi yang sama, terdapat ‘box’ untuk nonton film, tempat yang cocok untuk escape dari kesibukan di kota, selama antrian kosong.

Perpustakaan yang buka sampai jam 10 malam, dan ada space untuk shalat. Koleksi buku yang menarik, ditambah pemandangan kota amsterdam yang menajubkan. Menginspirasi diri untuk membuat project akhir tahun dengan seorang teman. (Sebenarnya ide buat project saat travelling itu kurang bagus, terlebih lagi saat tema travelling nya adalah thesis escape)

Pertemuan kembali dengan Ahkam, teman seperjuangan di lab dan startup, sempat ke pameran beasiswa bersama, akhirnya bertemu di dataran Eropa. Alumni STT/IT yang bekerja di Jerman, Irawan yang tahun lalu ga sempat ketemu, Cahyo yang mendadak nikah, dan Danang serta Domi yang bulan maret mau ihirr. Ka Raka yang baru ketemu di Jerman, dan Satrya yang juga ambil HCI di Uppsala. Senang rasanya bisa kumpul alumni, semoga summer depan bisa kumpul lagi sebelum saya pulang ke Indo.

Ketemu orang ini di sini
Ketemu orang ini di sini (y)

Secara mendadak ikut pengajian bulanan muslim Rein-Ruhr dan sempat mendengar tausiah dari mantan menteri pendidikan M. Nuh, tausiahnya sangat bagus. Acaranya dilakukan di Essen, rasa kangen dengan rawon juga terobati di tempat ini. Bertemu lagi dengan Tiger&Turtle, namun kali ini dengan background sunset yang menakjubkan. Entah bagaimana, dari T&T kami makan kembali di resto kebab yang sama dengan tahun lalu, kebetulan? Nampaknya resto ini memang yang termurah satu Duisburg (Doner Teler super besar 5,5 eur; Tasche 2,5). Esoknya rencanya ke Heidelberg batal karena kendala teknis, akhirnya kami bepergian ke Köln dan Bonn. Sempat terkesima karena di Köln dan Bonn ada masjid besar dengan halaman, layaknya di Indo. SubhanAllah.

Sesi nyasar di Bonn
Sesi nyasar di Bonn. Histeris melihat langit biru dan matahari.

Pertemuan dengan warga Duisburg Bang Dien dan Dadan, langganan Doner Land sehabis shalat Jum’at, yang selalu kami panas-panasin topik terkait tentang nikah. Pergi ke Essen malam-malam cuma buat beli ayam bakar yang nunggunya super lama, namun super enak. Mengunjungi perayaan maulid dan makan besar bareng brother yang lain, sampai kekenyangan tidak bisa jalan pulang. Pertemuan dengan refleksi diri beberapa saat lalu, berbicara dan tertawa mendengar kisah lucu yang terjadi di perjalananmu. Tersadar kalau saya sangat menikmati waktu saat berbincang dengan kamu.

Reuni dengan tetangga dan senior yang sudah 7 tahun belajar di Frankfurt. Bertemu om sepupu Afi yang makin gondrong, yang sedang berjuang stk. Kumpul rame-rame dengan Opa, Oma, Rizka, Afi, Ai, Om Edi dan Tante Farah; serta Tante Idja dan Ayla yang jauh-jauh ke Frankfurt hanya untuk ketemu beberapa jam. Kami sempat tinggal di rumah Oma Iin, akhirnya merasakan juga tinggal di perkebunan jerman. Secara ajaib bertemu dengan Bang Arya yang lagi duduk menunggu temannya belanja di zentrum Frankfurt, setelah tidak jadi ketemu di Düsseldorf dan Köln (dan beberapa hari kemudian tidak jadi ketemu lagi di Köln). Pertemuan dengan deretan mesin pesawat, motor, dan mobil yang berjejeran di Museum Sinsheim. Dan tentunya, kota yang paling ingin dituju: Heidelberg!

Keesokan subuhnya berpapasan dengan bus yang rencananya membawa saya ke Köln, setelah sebelumnya mengalami pengalaman unik di tram yang mengakibatkan keterlambatan tersebut. Heidelberg untuk kedua kalinya, ke atas bukit menggunakan bus dengan rute seperti di puncak, dilanjutkan dengan naik bergbahn ke kastil ditemani langit biru dan matahari yang bersinar.

Pertemuan kembali dengan Bremen hbf, tram menuju flughafen, dan Ryanair yang membawa saya ke daratan salju. Suara dan aksen yang familiar, terasa seperti berada di rumah. Dengan deretan pohon pinus, beserta tumpukan salju di rantingnya. Bus biru-putih dan suara beep saat penumpang melakukan tap kartu bisnya.

Dankjewel untuk Pak Edi Lekker dan Ka Said atas tumpangannya selama 2 minggu lebih, sehingga saya bisa merasakan hidup layaknya warga lokal Amsterdam, dan kurang lebih tahu rute sepeda keliling city dan dappermarkt. Danke schön untuk Cahyo yang sedang numpang (namun bisa memberi tumpangan juga untuk kami), dan atas beng bengnya! Opa, Oma, Om, dan Tante yang selalu membuat hati bahagia. Serta teman-teman lain yang direpotkan, yang hanya bertemu sebentar, maupun yang belum sempat bertemu. Semoga kita diberi umur panjang dan bisa bertemu di lain hari.

Teringat email dari koordinator GATE UTA terkait pemesanan tiket pulang yang saat itu hanya di ‘read’. Tidak terasa sudah 1,5 tahun saya berada di sini. Setelah 30 hari hidup hampir tanpa beban, saatnya bangun dari mimpi dan kembali ke kenyataan. Bismillah.

 

Advertisements

3 thoughts on “Post-Winter Escape

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s