Thesis Strikes (Week 5)


Halo,

Bersamaan dengan post ini saya akan update progress thesis yang sedang saya kerjakan. Setiap post akan berisi kumpulan update per-hari dalam rentang waktu satu minggu.

Terinspirasi oleh obrolan senior terkait metode ‘pengerjaan’ thesis, ternyata lebih ringan jika memandang thesis sebagai chunk-chunk kecil yang membangun sebuah karya besar. Chunks tersebut bisa kita jabarkan dan kerjakan per-hari secara fokus (misal 3 jam). Kemungkinan saya akan buat susunan chunks untuk keesokan hari saat malam hari sebelumnya, atau tergantung dari progress keadaan hari atau minggu tersebut.

Setelah diterapkan beberapa saat (walaupun baru 1,5 jam) ternyata lumayan berdampak – jika dibandingkan tidak mengerjakan apa apa! Jadi garis besar post ini, saya akan memecahnya dalam header per hari. Dalam header hari, akan saya tulis chunks ‘to-do’ serta ‘completed’. Beserta komentar terhadap progress hari tersebut.

26.1.2015

Chunks:

  1. Email pembimbing, tanya feedback research proposal dan table of content
  2. Susun informed consent untuk partisipan
  3. Masukin consent ke dalam online survey form
  4. List task yang penting terkait UX testing di website, terlebih lagi remote

Alhamdulillah setelah 1,5 jam, chunks 1-3 beres, bisa diakses di https://arganka.typeform.com/to/vnOvHa . Informed consent diambil dari kombinasi tugas eksperimen sebelumnya dan hasil dari googling. Saat melanjutkan edit form untuk survey di typeform, ada masalah teknis; somehow saat klik update button nya terus berputar. Akan dilanjutkan siang ini. Sepertinya chunks hari ini terlalu ‘simple’? Not sure.

Form untuk remote survey done. Email ke pembimbing juga sudah dibalas. Intinya proposalnya good, tapi dia belum bisa komentar banyak di toc nya. Karena menurutnya toc bisa ‘dikembangkan’ ke arah yang tidak terduga. Dia juga menunggu prototype visualisasi untuk diberi feedback. Form ini juga saya forward ke pembimbing dan dosen kelas UX untuk diminta feedback. Kalau pembaca juga ada feedback terkait form tersebut, silahkan comment pada post ini.

Selain remote survey, saya juga berencana untuk melakukan informal usability testing. Kemungkinan participantnya adalah teman-teman Indo atau teman kelas di Tampere yang menggunakan service bus secara rutin. Preferable mahasiswa HTI yang pernah mengambil course usability juga, lumayan menghemat waktu dalam penjelasan dan pengalaman think-aloud 😀

Malam harinya, ada video TED menarik terkait mapping spatial location, solusi yang indah! http://www.ted.com/talks/daniele_quercia_happy_maps

27.1.2015

Chunks:

  1. Minta feedback form survey (typo, task, dll) ke temen2 HTI
  2. Sebar form remote survey (target terisi 15 responden)
  3. Kontak calon partisipan untuk informal usability testing, cocokin jadwal
  4. Susun consent form, task, questionnaire buat informal usability testing

Karena mendadak mager ke kampus pagi-pagi, akhirnya chunksnya dikerjakan dirumah. Feedback dari pembimbing tentang formnya sudah dieksekusi. Kemudian form dari typeform juga bisa diembed di github pages, which is already pretty good, even without the styling etc! http://arganka.github.io/alynysse/

Sudah kontak juga dengan satu orang calon partisipan untuk test hari kamis. Pre-contact dengan partisipan remote survey juga sudah dilakukan, tinggal sebar form nya. Siang ini akan dilanjutkan dengan pembuatan dokumen untuk usability testing dan sebar form remote survey.

Email invitation beserta form survey sudah disebar ke rekan-rekan di Tampere dan Indonesia. Siang tadi juga masuk feedback dari dosen usability, yang ternyata dia juga kebingungan pas melihat visualisasi yang ada sekarang, tapi untuk pertanyaan di formnya menurut dia tidak ada masalah. Selain itu informed consent untuk testing live juga sudah diedit dan diprint, siap untuk digunakan.

Seperti malam sebelumnya, iseng-iseng explore TED, ketemu talk menarik tentang slow TV. Konsep yang agak aneh, namun ampuh saat diterapkan di Norway. Mungkin juga akan laku jika diterapkan di negara Nordic lainnya. Masih penasaran kenapa bisa menarik, apakah karena keterlibatan pemirsanya, atau memang terlalu ‘lambat’ dalam perpindahan scene, sehingga pemirsa bisa membuat cerita versi mereka sendiri, atau karena memang ‘berbeda’. Mungkin kalau ada slow visualization menarik juga.

28.1.2015

Chunks:

  1. Forward link survey ke group IX/UX/HCI di LinkedIn?
  2. Riset kecil parameter sensor yang sering digunakan / berguna
  3. Review lagi timeline yang pernah dibuat
  4. Cek sebenarnya ini bus rute berapa yang dipasang sensor….
  5. Screen capture web saat statusnya lagi aktif (untuk jaga-jaga kalau offline)

Yang dilakukan pertama adalah screen capture, untuk melengkapi form survey yang dibuat sebelumnya. Sebagai antisipasi, jika saat mengisi form, status busnya sedang ‘Offline’. Short videonya sudah dibuat, upload ke youtube, dan dimasukkan ke dalam survey. Kemudian, hal yang saya kira awalnya susah ternyata malah lebih mudah dari yang diduga: menemukan bus ini rute berapa. Caranya dengan membandingkan page Map Älynysse dengan service yang disediakan oleh kota Tampere (servicenya cukup bagus). Karena rute di deskripsi halaman Älynysse tidak cocok, mau tidak mau saya harus brute force untuk mencocokkan rute bus special tersebut. Untungnya di percobaan ke-3 langsung ketemu: bus nomor 3V ternyata!

Selain itu, saya juga post ads untuk minta bantuan survey ke grup LinkedIn UXIndo, Alumni online course HCI coursera, dan grup Talent Tampere. Walaupun agak kurang nyaman saat ngepost, karena tidak biasa post di forum umum. (Saha ni orang main ngepost2 aja :D). Namun, karena kepepet, ya sudahlah, post aja. Siapa tau ada yang mau nanya-nanya tentand metode riset di HCI atau bahkan nawarin job? intern?

Masih belum bisa ambil kesimpulan parameter sensor yang paling sering digunakan. Saat berkelana mencari jawaban, sempat bertemu dengan page sensor yang kemungkinan digunakan pada project Älynysse, yaitu WRM. Menarik juga, karena saya baru tau mereka juga punya platform visualisasi sendiri, namun tidak (belum) digunakan di page Älynysse.

Di malam hari, saat sedang review jawaban dari hasil survey, ternyata kebanyakan responden tertarik dengan distance dan speed. Belum ada yang tertarik dengan Throttle position (mungkin data ini akan lebih berguna kepada expert transportasi, atau pengendara bus?, kebetulan kedua user group tersebut belum ada yang mengisi survey ini).

Lain dari hari sebelumnya, kali ini berencana masak rawon atau semur saat weekend (bumbu instan ftw!). Karena belum pernah masak rawon, saya sempat browsing terkait bumbu instan di youtube; yang ternyata sepertinya keywordnya terlalu spesifik. Bertemulah dengan video sulap ini yang membuat dahu merenyit dan bergumam.. Hmm, kayaknya ga bakal semudah di video ini. Seriously! 30 detik dan dengan ost yang riang gembira.. *Maaf post thesis jadi terkontaminasi topik makanan

29.1.2015

Chunks:

  1. Short usability testing
  2. Analisis hasil usability testing
  3. Coba scrap data dari server wapice (bisa pakai REST atau query manual)
  4. Plot data GPS dalam durasi waktu tertentu, misal per bulan?
  5. Coba liat rutenya

Setelah usability testing informal dilakukan dengan lancar di pagi hari, siangnya saya mencoba mengakses data dari server wapice. Sempat kualahan karena kesalahan set format tanggal saat akses data (mereka menggunakan UTC micro), walaupun sudah menggunakan bantuan converter online. Kelihatannya sepele, tinggal menambahkan ‘000’ di belakang deretan tanggal yang sudah terconvert. Namun, karena di percobaan pertama saya lupa menambahkan tinga angka 0 tersebut, akhirnya data yang diakses adalah rentetan data saat sensor wrm pertama kali dibaca. Hal itu berakibat akses datanya cukup lama, terlebih lagi, rutenya berbeda! (sempat shock, karena kemarin sudah ‘yakin’ kalau rutenya adalah bus nomor 3)

Prosedur mengecek rutenya: ambil data latitude dan longitude dalam format JSON. Datanya bisa diambil dengan parameter mulai=waktumulai dan akhir=waktuakhir. Karena batasan dari sistem, maksimum data yang bisa dikeluarkan sekali request adalah 10000 baris. Lumayan untuk mencocokkan rute. Contoh query requestnya:

https://serverwrm.com/rest/v1/datanodes/26/processdata/?begin=1422350805000000&end=1422386805000000

begin dan end adalah waktu dalam format UTC microsecond, untuk tanggal 27.01.2015.

Untuk plotting, saya menggunakan bantuan Google Fusion, yang cukup mudah digunakan. Data yang didapat dalam format JSON diconvert dulu menjadi csv dengan bantuan tools online lainnya. Kemudian data tersebut diplot ke map menggunakan Fusion. Hasilnya bisa diakses di sini:

https://www.google.com/fusiontables/DataSource?docid=1DWkWEa7E09_KhBWK_T5xCZJ6Xp8c51cqvv6XASRJ

Setelah diplot, ternyata hasilnya berbeda dengan dugaan: ini bukan rute bus 3 yang kemarin saya lihat. Untungnya, Tampere punya service yang oke untuk menjawab rasa penasaran saya di sini. Ternyata pada tanggal tersebut, bus yang beroperasi adalah bus rute 28!

Ada kemungkinan kalau sensor wrm ini dipasang di beberapa bus dengan rute berbeda. Namun, web Älynysse saat ini hanya menampilkan satu bus tersebut? Atau bisa juga monitoring terhadap sensornya yang bergantian antara beberapa bus. Sepertinya saya harus coba cek lagi di hari yang sama dengan interval waktu yang lebih singkat (mengingat batasan row yang 10000) Mungkin dengan data yang lebih banyak polanya akan lebih terlihat.

30.1.2015

Chunks:

  1. Coba ambil lebih banyak data dari service wapice
  2. Bandingin dengan rute yang ada
  3. Cek perubahan rute untuk season tahun lalu dan tahun ini
  4. Gabungin audio dan screencast informal usability testing kemarin, upload?

Masih belum bisa dapat kesimpulan setelah observasi manual, ditambah ada internal server error saat request data. Hari ini saat observasi, ternyata bus yang dimonitor adalah rute 13, rute yang dulu biasa ditumpangi. Saya juga belum bisa menemukan rute ‘sebenarnya’ atau perubahan rute dari bus line yang dimention di website Älynysse. Selanjutnya, saya kontak project manager WRM untuk menanyakan rute tersebut, yang akhirnya oleh beliau diberi kontak email Chief of Equipment kota. Semoga dapat klarifikasi dengan cepat. Karena, kalau tidak, mau tidak mau harus cek manual lagi.

Saat ini sudah 3 rute yang didapatkan (ketiganya ditemukan di hari yang berbeda, mungkin ini polanya?). Rute sementara yang sudah ‘cocok’ dengan pergerakan bus di Älynysse adalah: 3, 13, dan 28. Jadi teringat dengan deskripsi bus nomor 277. Mungkin karena sensornya terikat dengan bus, sedangkan ada kemungkinan bus bisa berganti rute kapan saja (masih asumsi), bisa jadi Älynysse yang saya pahami sebenarnya tidak terikat pada rute.

20 thoughts on “Thesis Strikes (Week 5)

  1. Wah, a good method. Nanti saya coba terapkan dalam research activity.
    Anyway, semoga thesisnya lancar dan segera beres 😀

  2. Waaaahhh penting iniiih. Mau ikutan bikin beginian juga deh 😀
    Bikinnya sependek 1.5 – 3 jam gitu ya durasinya. Baiklah diterapkan mulai malam ini. Dari kemaren progress ngga signifikan ini ahaha.

  3. Hahahah semangat cuy! Iya durasinya pendek aja, kalau bisa fokus jam 9-12 pagi. Dua hari ini sih alhamdulillah ada progress pelan-pelan. Walaupun sorenya (kayaknya) main sama santainya lebih banyak, tapi santainya tanpa rasa penyesalan dan beban 😀

    *jangan lupa bantuin survey urang ya 😀
    http://arganka.github.io/alynysse/

  4. Done ya Ga heheheh. Typeform kece yaaaa. Semester kemaren juga pake itu buat kuliah. Btw, cepet juga ya udah survey-survey. Di mari baru mau submit proposal thesis akhir week ini wkwk.

  5. Tack så mycket! Menarik feedbacknya, gw ga kepikiran masukan2 dari lo. Bener, kece dari sononya emang typeform 😀
    Udah ngaret 3 bulan ini sebenarnya hheu.
    Nanti kalau butuh bantuan survey kabar2in aja cuy 😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s