Thesis Strikes (Week 6)


Post ini adalah kelanjutan dari jurnal thesis minggu sebelumnya.

2.2.2015

Chunks:

  1. Coba eksperimen menggunakan Design Sprint untuk paper prototype
  2. Pelajari issue tree
  3. Bangun issue tree berdasarkan table of content yang pernah dibuat
  4. Analisis hasil dari survey minggu lalu, parameter mana yang paling ‘diminati’, serta data kualitatif sebagai masukan ke design selanjutnya.

Setelah beberapa saat mempelajari issue tree, atau lebih tepatnya kebingungan, masih belum bisa menemukan tempat untuk penggunaan issue tree untuk pelengkap table of content. Mungkin karena table of content yang telah dibuat sudah cukup detail? Atau saya yang masih belum terlalu terbiasa dengan penggunaan issue tree ini. Jadi kelanjutannya adalah eksekusi chunks berdasarkan sub-point dari table of content yang saya pernah susun beberapa minggu sebelumnya. Sedangkan untuk form, alhamdulillah lebih dari target (15 responden) menjadi hampir 3 kali lipat. Klasemen parameter kurang lebih masih sama, dipimpin oleh speed, fuel consumption, dan distance. Average rating untuk Älynysse adalah 3.29, semoga nanti improvement yang saya usulkan bisa lebih baik ratingnya. Banyak dari responden yang menyampaikan kebingungannya tentang goal dari website atau visualisasi ini (saya juga kebingungan awalnya). Hal ini bisa jadi karena tidak ada deskripsi di halaman visualisasi, bahkan deskripsi yang kurang match dengan visualisasi yang ditampilkan. Selain itu, beberapa responden juga, walaupun kurang lebih menangkap goal tersebut, menyampaikan concern nya tentang user dan fungsi dari visualisasi. Seperti “.. Not sure who needs all of the info”. Atau nada yang kurang lebih seperti “lebih baik tampilkan summary nya saja”, atau dengan penambahan ‘arti’ dari angka-angka tersebut. Misalnya speed diatas 50km di jalan tersebut melanggar batas kecepatan, atau fuel consumption pada jalur ini di atas rata-rata. Hal ini sangat wajar, karena tanpa deskripsi yang sesuai, konteks dari visualisasi tersebut bisa melenceng. Hasilnya adalah pengguna tidak bisa mendapatkan knowledge yang berguna setelah melihat visualisasi, atau bahkan mendapatkan kesimpulan yang berbeda dengan data sebenarnya. Beberapa responden juga memberikan usul untuk menggabungkan display map dengan data, walaupun ada satu responden yang suka dengan pemisahan tersebut. Saya pribadi lebih condong untuk menggabungkan design map dengan visualisasi data sensor, karena memang topik thesisnya saya propose ke arah itu. Ada hal yang menarik juga tentang interaksi di website tersebut. Seorang responden menyarankan fitur untuk customize data section, dimana sebenarnya feature tersebut agak inline dengan mantra visualisasi yaitu overview first,  zoom and filter, then details-on-demand. Yang sayangnya, belum diakomodasi oleh visualisasi di website tersebut. Sempat terasa burnout setelah menelusuri proses dalam artikel dan linklink terkait dari halaman Design Sprint tersebut, saking serunya. Intinya sprint ini mencoba melompati proses build-launch, langsung dari ide ke launch dan user study. Bedanya yang saya lakukan kali ini, adalah design sprint team of one. Tapi sepertinya menarik juga merubah kamar menjadi DIY design war room. Tampaknya harus segera buat asumsi permasalahan dan generate user story yang menarik. Sekaligus rekrut participant untuk akhir pekan (rekrut di awal, terlebih lagi belum ada product yang bisa ditest, bisa memberikan tekanan cukup besar; ini adalah inti dari design sprint). Baru sadar juga kalau ternyata Silverback 2 sekarang gratis! Mungkin bisa dicoba saat user testing.

3.2.2015

Chunks:

  1. Adaptasi design sprint untuk kebutuhan thesis
  2. Kirim thank you notes untuk participant survey beserta invitation untuk test paper prototype
  3. Susun survey untuk screening calon participant
  4. Buat list mailchimp
  5. Buat kumpulan user story
  6. Baca-baca tentang design conflicts

Hari ini diawali dengan berkelana di hutan artikel usability testing, karena saya belum punya pengalaman ‘user testing’ dalam konteks professional, hanya pernah melakukan usability testing dalam konteks akademis, which is quite formal. Penasaran dengan practice yang dilakukan di dunia industri, siapa tau nanti dapat intern terkait bidang ini sebelum menunggu PhD. Saya mendapat artikel yang cukup menarik, dimulai dari persiapan, actual test, dan post-user testingnya. Hal yang baru bagi saya, atau lebih tepatnya belum pernah dilakukan adalah post lowongan test di craiglist, atau bahkan menggunakan Amazon Mechanical Turk (itu juga jika ada). Kemudian menonton dan membahas semua video user evaluation dengan semua anggota tim. Yang waktu itu kami lakukan, karena jadwal kuliah yang berbeda, adalah tiap orang menonton semua video, kemudian meeting di suatu hari untuk membahas temuan di rekaman tersebut. Cara debriefing yang kami lakukan juga agak berbeda, tampaknya menggunakan method pada link tersebut juga menarik: post-it, whiteboard dengan spidol 3 warna (hijau, merah, dan hitam), kemudian pengelompokan berdasarkan fungsionalitas. Sepertinya menarik kalau nanti saya coba di startup teman di Indonesia. Selain itu Google Venture juga punya banyak artikel berkualitas tentang topik ini, lumayan menambah pengetahuan tentang practice user researh.

Saat membaca salah satu paragraf di artikel DS day 1, user story dimention. Saya sendiri kenal-ga-kenal dengan istilah user story. Seperti pernah dengar dimana gitu? mirip dengan user scenario kah? Temannya storyboard? Mungkin ada hubungannya dengan persona, mungkin dibuat dari persona? Saat googling lebih lanjut, ternyata malah ketemu template persona yang pernah saya gunakan di project kelas, dan memang ada hubungannya dengan storyboard. Gampangnya ini proses yang bisa dilakukan sebelum membuat storyboard. Biasanya saya loncat dari persona, langsung ke storyboard. Situs tersebut juga menyediakan Product Canvas yang membantu kita untuk maping, user, scenario, dan deliverables dari product yang sedang di-design.

4.2.2015

Chunks:

  1. Adaptasi design sprint untuk kebutuhan thesis
  2. Kirim thank you notes untuk participant survey beserta invitation untuk test paper prototype
  3. Buat kumpulan user story
  4. Buat skenario berdasarkan user story tersebut
  5. Buat sketch berdasarkan skenario2nya
  6. Siapin dokumen untuk reply invitationnya, apakah cocok atau belum cocok sebagai responden di stage ini
  7. List dokumen2 yang perlu dipersiapkan untuk prep

Sempat kurang optimal kemarin, karena mencoba mengerjakan hal-hal lain terlebih dulu sejak dini hari sampai sekitar jam 12 siang. Baru mulai mengerjakan chunks sekitar jam 2, yang ternyata kurang bagus hasilnya, karena mungkin pikiran sudah diperas untuk hal-hal sebelumnya. Alhasil user story baru beberapa yang dicoret di kertas dan masih di alam pikiran, belum dipolish dan dipikirkan secara matang. Screening untuk survey juga baru beres jam 10 malam. Walaupun sudah belajar banyak tentang design sprint, tampaknya belum tuntas kalau plan nya belum ditulis.

Untungnya pagi ini langsung mengejar ketertinggalan, surveynya dipolish, kemudian masukin list email ke campaign mailchimp. Alhamdulillah, target respon survey sebelumnya sudah diatas 50 responden! Sedangkan untuk sesi selanjutnya saya hanya butuh sekitar 5 partisipan untuk testing. Karena satu sesi testingnya bisa berdurasi 60 menit. Survey untuk appointment test bisa diakses di:

http://arganka.com/alynysse/testing/

Beberapa saat setelah kirim campaign baru terasa tekanannya, benar-benar daunting. Bagaimana kalau ga beres? Bagaimana kalau prototypenya ‘kurang perfect’? Hmm, sepertinya ini memang inti dari sprint, untuk fokus dan menentukan prioritas ide untuk dikembangkan menjadi prototype. Karena semua ide masih di kepala, dan beberapa masih di kertas. Tiga hari ini bakal kerja rodi nampaknya!

Tekanannya ternyata langsung berbuah, ada kesalahan teknis kecil yang membuat saya harus mengirim email secara manual ke beberapa calon partisipan. Untungnya langsung bisa diatasi. Berita bagusnya, sudah ada beberapa calon partisipan yang mendaftar dan mengisi time slot! Saatnya dilakukan screening, apakah profil partisipan tersebut cocok untuk berpartisipasi pada stage ini (yang dimana prototypenya mungkin jauh dari ‘sempurna’)

Untuk user story, saya mulai dari pembuatan persona, setelah sebelumnya brainstorming lagi user yang kira-kira akan jadi target dalam scope pengerjaan thesis kali ini. Intinya ada dua user yang akan ditarget, yaitu penghuni kota Tampere dan calon visitor. Setelah persona, saya langsung loncat ke skenario, dan baru putar balik untuk membuat user story. Dari user story tersebut, saya buat epic-epic yang kemungkinan akan saya gunakan untuk mendesign workflow perjalanan user di design yang akan dipropose. Jadi, intinya, kurang lebih seperti merancang kira-kira sejak masuk website, user diharapkan bakal ngapain aja, caranya gimana, dll, sampai keluar website ini.

Malamnya, somehow, saat sedang browsing di GV Design, ketemu dengan artikel yang membahas penerapan Design Sprint di Gimlet. (Bukan, bukan Gimlett yang ini)Wow! Surprise dan senang di saat yang bersamaan, karena podcast nya bagus dan di akhir tahun baru mulai mendengarkan podcast tersebut. Sebenanya kurang yakin juga alasan bisa senang kenapa, mungkin salah satu podcast favorit mencoba method yang sedang saya pelajari dan gunakan juga untuk thesis di saat yang bersamaan?

5.2.2015

Chunks:

  1. Coba tentukan ide mana yang mau dikejar.
  2. Buat design di paper
  3. Coba jadiin ke medium/hi-fi prototype (Axure/Invision/Powerpoint?)
  4. Cek email untuk invitation (kalau ada)
  5. Kirim NDA ke calon participant
  6. Konfirm waktu

Pagi harinya saya sudah kirim email konfirmasi beserta NDA ke participant. Untuk ide dan sketch masih dikejar sampai siang ini, semoga sempat buat sketch yang cukup menggambarkan visualisasi yang saya inginkan. Mungkin ini baru pertama kalinya merasa benar-benar tertekan dalam ngerjain thesis, karena lusa sudah testing dan prototypenya belum tersedia. Tambahan lagi, kali ini harus mempersiapkan semuanya: sketch, prototype, design task, design analisis, teknologi untuk remote testing, beserta segala macam dokumen dari script, NDA, interview, invitation, confirmation, thank you notes? Dan dalam rentang waktu yang sangat singkat. Lumayan jadi pengalaman one person UX, walaupun sebenarnya saya ingin lebih fokus ke teknik visualisasi. 😀

It’s not a good experience to be behind the schedule… Lusa sudah test, dan ada beberapa participant di hari sabtu tapi prototypenya belum jadi. Pengalaman berharga untuk prioritize dan tahu waktunya untuk stop eksplorasi ide, bertaruh di salah satu (atau ldua) ide dan lanjutkan di prototype!

6.2.2015

Chunks:

  1. Coba jadiin ke medium/hi-fi prototype (Axure/Invision/Powerpoint?)
  2. Tentuin task yang mau dilakukan
  3. Persiapkan script interview
  4. Kirim reminder untuk yang user testing besok (kalau ada)
  5. Cek email untuk invitation (kalau ada)
  6. Kirim NDA ke calon participant
  7. Konfirm waktu

Brr! What a day! Dokumen-dokumen sudah diselesaikan dari pagi-sore hari, dari task dan interview; agak lama karena kepotong shalat Jum’at. Sempat istirahat di senja harinya, lanjut lagi implement prototype pada malam harinya. Tantangannya, karena pakai map, kemungkinan agak kurang ‘real’ kalau menggunakan screenshot dan diolah melalui invision, powerpoint, atau service prototype lainnya yang lebih ‘screen-based’. Jadi saya menggabungkan Sketch + Mapbox + Axure. Not bad untuk prototype dan kepepet! (atau lebih tepatnya, itu yang saya bisa pakai di waktu kepepet ini)

Malamnya coba pilot test, dibantu teman di UTA yang jurusan HTI juga. Terkuaklah berbagai macam permasalahan, always do pilot! Satu hal yang masih belum bisa dipecahkan, saat melakukan recording dengan Silverback dan Hangout, ternyata Silverback tidak bisa mengambil input suara dan video dari iSight (karena sudah dipegang oleh hangout), which is a disaster for me. Video yang diexport tidak ada suara. Hmm.

Halaman Sketch
Halaman Sketch

7.2.2015

Chunks:

  1. User Testing
  2. Refleksi dari user testingnya
  3. Kirim reminder untuk yang user testing besok (kalau ada)

Hari ini akan ada dua participant yang akan melakukan testing (2 jam dari waktu penulisan ini). Semoga lancar, aamiin. Sayangnya karena ada kesalahan teknis, yang pertama, di email konfirmasi kehadiran, saya lupa menekankan bahwa sesi kali ini akan menggunakan desktop/laptop. Permasalahannya, participant yang pertama tidak bisa mendapatkan akses ke dua benda tersebut saat weekend. Solusinya adalah dilakukan re-schedule untuk weekday minggu depan.

Untuk participant kedua, lagi-lagi masalah teknis menghadang. Sepertinya memang weekend waktu yang tepat untuk istirahat, bukan usability testing, apalagi remote. Masalah yang dihadapi saat menjalankan session dengan participant yang kedua adalah… koneksi internet. Agak bingung juga, karena saya bisa mendengar suara participant, tetapi sang participant tidak bisa mendengar suara saya saat hangout, namun kami tetap berkomunikasi dengan teks. Seperti ada hijab 😀
Setelah 1,5 jam lebih mencoba berbagai jurus untuk mencari solusinya, akhirnya session ini di reschedule lagi. Sebenarnya sempat lancar beberapa saat, mungkin sekitar 3 menit, setelah itu koneksinya kembali ke keadaan semula.

8.2.2015

Chunks:

  1. User Testing
  2. Refleksi dari user testingnya
  3. Analisis semua hasil user testing

Paginya, akan ada satu orang participant yang akan melakukan test. Namun, lagi-lagi, kayaknya memang belum waktunya, sesi di reschedule karena sang participant ada keperluan mendadak di luar kota. Untungnya, participant selanjutnya bisa join di sesi remote testing kali ini! walaupun awalnya dia sempat bilang ga janji. Emang ada aja lah jalan dan skenario dari Allah. Padahal sempat mau ‘tutup toko’ dulu untuk hari ini. 😀
Walaupun masih menggunakan prototype yang dikebut dalam beberapa jam, alhamdulillah sesi testnya lancar dan banyak mendapat masukan yang berguna dari participant. Saatnya menghela nafas untuk minggu ini.

Design sprint memang sangat menarik untuk dicoba, apalagi untuk startup, tapi pelajaran yang bisa saya ambil kali ini, nampaknya cukup berat untuk melakukan design sprint seorang diri (terlebih lagi memegang dua role yaitu UX research dan product), dan produknya sendiri belum ada. Untungnya, untuk sprint selanjutnya, sudah ada beberapa dokumen yang bisa di-reuse dan dikembangkan.

Begini rasanya burnout pikiran dan tenaga. Saatnya menghela nafas dulu untuk beberapa hari kedepan.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s