Thesis Strikes (Week 8)


Post ini adalah post ke-empat dari seri thesis. Post pertama bisa dilihat di link ini, post-2, post-3.

16.2.2015

Chunks:

  1. Cek lagi visualization task di paper-paper yang dulu sudah dibaca
  2. List task-task yang ada di sana, compare ke task awal
  3. Buat skenario detail berdasarkan task yang baru tersebut
  4. Buat sketch berdasarkan skenarionya
  5. Kirim link konfirmasi dan NDA ke participant untuk weekend ini

Saat cek email di pagi hari, pembimbing sempat mention paltform untuk visualisasi yang menarik, terkait rute bus khususnya. Tools tersebut adalah Shiny dari RStudio, sudah bisa ditebak kegunaannya. Bisa membantu presentasi dalam platform website, setelah analisis dilakukan di R, awesome isn’t it! Saya sangat suka mengolah data menggunakan R, walaupun hanya pernah mencoba saat kuliah information visualization dulu.

Awalnya, opsi untuk mengolah data dengan R, dalam thesis ini, sempat saya abaikan, karena kemalasan saya untuk mencari kemungkinan integrasi hasil analisis R ke web. Saat kuliah dulu, saya mengolah data di R, export secara manual, terus import hasilnya (secara manual juga) ke web. Namun, dengan info baru ini, mungkin saja saya menggunakan Shiny di iterasi akhir dari thesis. Target iterasi dalam dua minggu kedepan ini tentu saja untuk validasi ide, task, dan skenarionya.

Di pagi hari, sebelum berangkat ke kampus, email konfirmasi dan NDA sudah dikirim ke participant. Kali ini alhamdulillah, calon participant yang mendaftar meningkat. Siangnya, saya mereview kembali 5 paper yang menarik dari tumpukan paper yang sudah dibaca dan melihat task dan skenario yang mereka lakukan.

Akhirnya, semakin jelas kesalahan saya pada iterasi prototype pertama: missmatch ide yang diusulkan dengan implementasi dari prototypenya. Ide yang saya usulkan adalah menggabungkan spatial, temporal, dan contextual information. Selain itu, ada kesalahan design workflow yang cukup fatal, saya seakan-akan menggiring participant untuk memilih rute bus yang memungkinkan. Sehingga semua participant awalnya menangkap kalau situs ini dapat memonitor beberapa bus. Hal ini berlawanan dengan fakta bahwa Älynysse, saat ini, hanya memonitor satu bus, yang bisa menjalani beberapa rute berbeda dalam satu hari.

Kesalahan lain terkait workflow, saya yang sebenarnya ingin fokus di penggabungan spatial dan dua informasi lainnya tersebut, malah menekankan ke visualisasi temporal. Karena itu, saya akan coba susun skenario baru yang bisa menonjolkan sisi penggabungan tersebut. Untungnya masih pakai prototype (dan baru 1x iterasi), bayangkan waktu yang terbuang jika saya sudah develop appsnya.

Skenario untuk overview kurang lebih sudah beres beserta sketchnya, besok pagi akan dilanjutkan dengan route-view dan (mungkin) analysis view.

17.2.2015

Chunks:

  1. Buat skenario untuk route view
  2. Coba susun task baru yang memungkinkan
  3. Explore Axure/Sketch untuk kemungkinan prototype baru

Andaikan kita bisa tahu sel atau bagian dari otak mana yang aktif (bertanggung jawab) terhadap gaya pemikiran kita, misal: state otak untuk berfikir realistis dan state untuk berfikir perfeksionis- mengeksplor berbagai kemungkinan untuk menghasilkan solusi yang diperkirakan akan mendekati hasil yang kurang-lebih sempurna.

Nampaknya, beberapa hari kebelakang saya terlalu asik untuk mengeksplor dan merenungi berbagai kemungkinan permasalahan (karena framing problem tidak kalah penting, nampaknya akan sia-sia jika kita menghabiskan waktu untuk menjawab pertanyaan yang salah). Serunya thesis (dan TA dulu), permasalahan dan solusi dirancang sendiri.

Untungnya, siang ini sang Bagian Realistis (BR) terbangun dari tidurnya dan mengatakan:
BR: “Ingat, hari Kamis udah testing pertama, which means 2 hari lagi bro. Memang mau cari apaan lagi sih?” Bagian Eksplorasi (BE) tidak mau kalah
BE: “Kurang ini, itu, dan blablabla lainnya. Nanti gimana kalau kasus X ga ditangani? masih ingat sama sesi kemarin?”
BR: “Ini kan prototype buat validasi ide aja bro, paling gak kasih MVP nya aja. Memang mau mecahin masalah apa sih?”
BE: “Intinya kan gabungin visualisasi spatial, temporal, sama kontekstual. Tapi berdasarkan ini…, berdasarkan itu…, kayaknya enak gini deh…, tapi kekurangannya gini…, dst”
BR: “Sebentar, kontekstual yang dimaksud di sini itu apa ya?”
BE: “Ya, kontekstual… konteks… Btw, konteks itu apa ya definisi sebenarnya?”

😀

Seriously, langsung googling artinya contextual apa. Terus langsung teliti lagi di paper visualisasi context yang udah pernah dibaca, apa yang mereka maksud dengan context. Kemudian saya cari paper visualisasi contextual, penggabungan temporal+spatial+contextual dsb. Jadi context yang saya maksud selama ini apa? Jangan-jangan, informasi yang saya kira kontekstual sebenarnya bisa dimasukkan ke dalam temporal atau spatial? atau bisa juga sebaliknya? Karena definisi konteks, tergantung konteksnya :))
Alhamdulillah di penghujung hari sudah dapat pencerahan informasi kontekstual apa yang saya gunakan dalam thesis saya. Dengan kejelasan itu, saya mengelompokkan lagi dalam kasus ini mana saja informasi yang spatial, temporal, dan kontekstual. Setelah informasi yang tersedia jelas, pembuatan skenario baru menjadi lebih mudah. Draft task juga lebih mudah untuk diselesaikan.

18.2.2015

Chunks:

  1. Beresin task
  2. Kejar prototype buat pilot testing besok

Hari ini disibukkan dengan penyelesaian prototype. Semoga terkejar untuk pilot testing besok pagi. Alhamdulillah, sang prototype kurang lebih ‘beres’ jam 2:30 dini hari. Sudah lama gak kerja rodi sampai tengah malam begini, dan besok baginya ada sesi pilot jam 8.

19.2.2015

Chunks:

  1. Pilot testing, minta feedback tentang sesi dan prototypenya
  2. Refine prototype
  3. Kirim reminder ke participant

Pagi harinya langsung pilot testing bersama seorang teman yang kebetulan menjadi participant di iterasi pertama. Langsung loncat ke task, karena introduction dan pertanyaan awalnya sama. Saya mendapatkan banyak feedback konstruktif terkait prototype, semoga terkejar waktunya untuk direfine.

Saat pilot test kali ini juga sudah terungkap permasalaan saat share screen di Google Hangout On Air. Saat iterasi pertama, ada kendala dengan hal tersebut, kadang bisa share screen untuk menampilkan task ke participant, kadang tidak. Ternyata, agar ‘window’ yang diinginkan muncul di pilihan share screen GHOA, window tersebut harus berada dalam ‘Desktop’ yang sama. (Di MacOSX atau linux bisa punya beberapa desktop, seperti gambar di bawah). Kalau window yang ingin dishare berbeda desktop dengan window GHOA, maka tidak akan muncul pilihan window tersebut. Temuan yang tidak sengaja, tapi sangat berguna terkait penyajian task ke participant.

Contoh dengan Beberapa Desktop
Contoh dengan Beberapa Desktop

20-22.2.2015

Chunks:

  1. Remote testing

Seru sekali rasanya saat melakukan 8 sesi remote testing kali ini! Banyak pelajaran yang bisa diambil dan pengalaman baru yang didapat. Beruntung sekali karena kali ini kedatangan beberapa professional yang bekerja di bidang UX, front-end web dev, IX, dan ada participant yang dulu master thesisnya terkait dengan UX. Alhasil, beberapa ‘aturan baku’ sempat dilanggar, dan saya malah interview mereka tentang pengalaman terkait testing dan workflow mereka di bidang pekerjaan yang mereka geluti.

Alhamdulillah untuk pengerjaan task dan think aloud lancar jaya. Ternyata seru juga merancang task dan skenario. Tantangan yang saya hadapi kurang lebih sama seperti kemarin, yaitu di saat interview awal, karena either kurang suka melakukan small talk atau saya sudah tahu background participant yang relevan dengan task yang akan dilakukan.

Kadang juga, saya tidak usah memancing pertanyaan banyak untuk mengambil informasi tersebut. Hal tersebut karena sebagian dari participant bercerita dengan semangat menjawab pertanyaan yang diajukan. Atau, mungkin saya yang memang benar-benar tertarik untuk mendengar kisah dan tantangan dalam pekerjaan mereka. Seru!

Masalah yang muncul lagi adalah koneksi internet, untungnya ada spare waktu 2 jam untuk sesi yang diplot 1 jam. Selain itu, mungkin saya juga kurang menekankan secara spesifik kalau untuk sesi ini dibutuhkan pc/laptop dengan microphone.

Akhirnya ada progress berarti setelah mengerjakan chunks sedikit demi sedikit. Memang perjalanan masih jauh; tetapi, paling tidak, lebih baik daripada kosong sama sekali.

6 thoughts on “Thesis Strikes (Week 8)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s