Thesis Strikes (Week 12)


Recap sedikit, post ini awalnya bertujuan untuk membantu saya mengerjakan thesis yang ‘terlihat besar’ dengan memecahnya ke dalam beberapa ‘chunks’ kecil. Post ini adalah post ke-delapan dari seri thesis. Post pertama bisa dilihat di link ini, post-2, post-3, post-4, post-5, post-6, dan post-7.

Sepertinya saya sudah bisa membaca patternnya. Bukan, bukan pattern thesisnya, tapi pattern dari pengerjaan thesis kali ini. Di minggu genap, biasanya saya akan jungkir balik design, implemen prototype, dan user testing saat weekend. Di awal minggu ganjil, biasanya saya akan melakukan analisis, kemudian membuat report dan mengirimkannya ke pembimbing. Setelah itu sisa minggu ganjil dihabiskan dengan mager. Hanya untuk kemudian sadar, bahwa tidak banyak waktu yang tersisa, kemudian mengirimkan invitation untuk user testing di minggu depan. Dan kembali ke awal looping.

Saat iterasi pertama dan kedua mungkin tidak terlalu berat, walaupun yang pertama sebenarnya hampir tidak ada clue bagaimana proses yang benar. Namun, seiring jalan, sampai iterasi ketiga sudah mulai jelas prosesnya dan sebagian besar asumsi sudah tervalidasi. Tantangannya adalah, seiring dengan banyaknya asumsi yang tervalidasi, tentunya fitur untuk iterasi selanjutnya harus dikembangkan sesuai dengan planning dan rekomendasi testing sebelumnya.

Tentunya fitur2 tersebut akan sulit untuk direalisasikan, kalau saya hanya melakukan effort yang sama dengan iterasi selanjutnya. (mager) 😀

Kurang lebih jadwalnya begini:

  • Minggu 1 (Senin-Selasa: analisis, report; Rabu-Sabtu: leha-leha sambil cari inspirasi)
  • Minggu 2 (Senin: panik, sebar undangan, design task; Selasa-Kamis: salto; Jum’at-Sabtu: user testing)

Setiap iterasi punya tantangan unik tersendiri. Untuk kali ini mungkin tantangannya adalah kepada refleksi fitur yang akan ditest atau ditambah, dan apakah iterasi kali ini cukup untuk menjawab asumsi dan dijadikan sebuah master thesis?

16.3.2015

Chunks:

  1. Sebar invitation untuk testing
  2. Masukin konteks ke overall stats

Invitation kali ini saya sebar ekslusif melalui email, karena hanya membutuhkan sekitar 5-6 participant. Selain karena sudah menjadi semacam rutinitas, rasanya saya tidak perlu memasukkannya ke dalam list chunk lagi. Untuk aplikasi konteks di overall stats,  saya bertemu dengan salah satu tipe graph yaitu Bullet Graph.

Solusi yang elegan, hemat tempat dan tidak terlalu banyak clutter. Pembuatnya, Stephen Few, sampai menyajikan spek graph nya di sini. Tahun lalu sempat skimming buku yang dia karang, Now You See It, yang bagus dan sangat tebal. Coba disimak spek dari graphnya, menarik. Few juga membahas beberapa studi kasus visualisasi di websitenya.

17.3.2015

Chunks:

  1. Lanjutin prototype
  2. Kirim NDA ke participant

Hari ini berjalan biasa saja, sampai saat sorenya ada teman mengabarkan kalau ada kemungkinan aurora dengan KP yang besar di malam ini.

Mungkinkah kali ini bisa terlihat?

Teman-teman berencana untuk berangkat sekitar jam 8, karena langit baru gelap di sekitar jam tersebut. Namun, karena saya baru pulang jam 8 kurang, akhirnya saya memutuskan untuk menyusul setelah beres-beres, makan, dan istirahat sejenak.

Jam 9 kurang berangkat dari rumah, full speed mengayuh pedal sepeda. Takut terlambat melihat show aurora, seperti kejadian beberapa bulan lalu. Dengan nafas yang masih tersengal, saat mendekati spot danau, saya melihat banyak orang yang meninggalkan lokasi. Sepertinya saya telat lagi.

Langit gelap…

Saya juga tidak bisa menghubungi teman saya, karena pas pulsa sedang habis. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari spot yang enak sambil menguji keberuntungan. (Karena kata teman yang datang beberapa waktu lalu, di kamera terlihat, namun di mata tidak kelihatan)

Kupluk saya beralih fungsi jadi penyangga kamera untuk mengganti tripod, layaknya alas duduk kamera di bebatuan. Saya sengaja mencari spot di ujung bebatuan, agar tidak terhalang bayangan manusia. Walaupun sebenarnya khawatir, kalau ada orang yang lewat dan tidak sengaja menendang si GR. Wassalam secara instant ke danau beku.

Beberapa saat mencoba foto hasilnya kurang memuaskan, karena auroranya tidak kelihatan. Saya juga agak susah mikir untuk adjusment exposurenya, campuran kedinginan, excited, dan harap cemas ada atau tidak auroranya. Dan mungkin saya yang salah setting karena belum pernah foto aurora?

Akhirnya, duduk di bebatuan sambil menikmati suasana. Memang ada sedikit warna hijau di langit sih tapi yaa.. Anggep aja auroranya ada, cuman tidak terlihat, karena ketutupan awan. Sembari itu saya coba experimen setting kamera, 300s, 120s, dll, karena langit masih gelap. Lumayan, warna hijau sudah kelihatan di hasil foto (anggep aja aurora saat itu)

Agak pasrah, akhirnya saya memutuskan untuk membuat Time lapse, siapa tau sembari menunggu auroranya bisa kelihatan. Untungnya GR sudah ada built in function untuk timelapse. Saya kemudian kembali menikmati indahnya bintang, suara orang yang berbincang dalam berbagai bahasa, dan (anggap saja) aurora kehijauan.

Sampai suatu saat seorang Finns yang berbincang seakan akan berucap ke temannya “tuh tuh, bagus”, sembari menunjuk ke langit. Saya melihat ke atas, agak ada warna hijau sih, tapi masih agak gelap. Namun gambar yang ditangkap kamera menunjukkan hal yang berbeda, aurora! SubhanAllah!

Makin semangat untuk menunggu, seperti apa hasil timelapsenya nanti. Kamera saya masih mengambil rentetan gambar untuk timelapse, sampai ada cahaya yang menyinari kami. Menari-nari di langit, diiringi dengan riuh suara orang yang hadir di danau.

MasyaAllah!

Begitu sempurnanya ciptaan-Mu, tiada celah kecacatan. Indah. Saya tidak bisa berhenti tersenyum, karena akhirnya bisa mewujudkan mimpi untuk melihat aurora. Di saat yang tidak terduga, saat menyelesaikan thesis. (Sorry, it’s a thesis related post anyway)

Saking senangnya, saya hampir tidak perduli mau foto atau tidak, pengalaman yang sangat berharga. Teringat beberapa tahun lalu saat ujian Inovasi, ada soal bonus tentang menggambar cita cita. Saya menggambar situasi dimana saya sedang di arctic dan melihat aurora. Tampere memang belum di arctic, tapi inti dari salah satu cita-citanya kesampaian.

18-21.3.2015

Chunks:

  1. Beresin overall stats
  2. Refine design sama interaction antar element
  3. Tambahin emssion
  4. Siap-siap untuk testing

22.3.2015

Chunks:

  1. Remote testing

Hari ini rencananya akan ada 3 sesi testing, namun dua sesi harus di reschedule karena ada masalah mendadak. Hal ini tentunya sudah menjadi pertimbangan resiko saat menggunakan remote testing. Sedangkan satu sesi lainnya berjalan dengan lancar dan menyenangkan.

Salah satu sesi direschedule pada malam hari. Terjadi hal yang tak terduga setelah memberikan introduction, mencontohkan think-aloud, background-question, dan practice task. Seperti biasa, saya memberikan link ke AxShare ke participant.

Tidak seperti biasanya, saat itu ada tulisan redirecting to ‘urlnya’. Beberapa saat kemudian, muncullah sebuah gambar yang mencengangkan: Internet Sehat.

Come on….

Akhirnya sesi tersebut direschedule untuk keesokan harinya. Untungnya, ada teman satu jurusan di Tampere yang bersedia membantu untuk menjadi participant.

Advertisements

2 thoughts on “Thesis Strikes (Week 12)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s