Thesis Strikes (Week 13)


Setelah bertemu dengan insiden Internet Sehat pada hari Minggu, akhirnya remote testing dilanjutkan kembali pada hari Senin. Alhamdulillah prosesnya berjalan lancar jaya. Tidak terasa sudah minggu ke-13. Kebiasaan menghitung minggu dengan nomor baru saya alami saat menginjakkan kaki untuk studi di benua biru. Agak canggung juga awalnya saat melihat beberapa jadwal course mencantumkan nomor minggu.

Sisi positifnya, jadi lebih aware terhadap waktu yang berjalan. Dari sudut pandang yang lain, semakin sadar bahwa waktu itu terbatas dan bisa jadi ‘panjang’ atau ‘pendek’, tergantung dari mana kita melihatnya. Sudut pandang manapun yang diambil, waktu tetap berjalan, dan tetap menjadi hal yang paling mahal. Karena sampai sekarang, waktu yang sudah terlewat tidak akan bisa dibeli. *ini jadi agak ngelantur dari topik thesis 😀

Untuk yang bertanya tentang post ini, post ini awalnya bertujuan untuk membantu saya mengerjakan thesis yang ‘terlihat besar’ dengan memecahnya ke dalam beberapa ‘chunks’ kecil. Post ini adalah post ke-sembilan dari seri thesis. Post pertama bisa dilihat di link ini, post-2, post-3, post-4, post-5, post-6, post-7, dan post-8.

23.3.2015

Chunks:

  1. Lanjut remote testing
  2. Refine prototype berdasarkan saran participant

Pada hari ini rencananya ada 5 sesi testing, namun 2 sesi tidak jadi diselenggarakan karena masalah teknis. Untungnya dengan tambahan 3 participant, iterasi kali ini sudah melakukan testing dengan 5 participant, yang biasanya adalah jumlah yang cukup.

Malam harinya, saya menambahkan beberapa fitur di prototype dan refine hal-hal kecil terkait design di prototype. Terkait dengan waktu, untuk satu sesi biasanya saya plot 2 jam. 1 jam untuk waktu testing, dan 1 jam untuk spare waktu. Jika ada 5 atau 6 sesi remote testing yang ditumpuk dalam satu hari, bisa dipastikan saya akan duduk seharian di depan komputer melakukan hal yang sama. Tapi hal itu tidak menjadi masalah besar, karena setiap sesi itu unik dan punya faktor fun nya masing masing.

24.3.2015

Chunks:

  1. Rancang case study baru, bandingin dengan static image
  2. Buat transcribe dari remote testing

Beberapa hari yang lalu, pembimbing saya menanyakan tentang kegunaan interaktifitas di visualisasi ini? Apakah perlu jadi interaktif? Memang benar, sebuah visualisasi yang awalnya statis tidak serta merta menjadi berguna hanya dengan menjadikannya interaktif.

Akhirnya saya buat survey kecil yang dikirimkan kepada 5 orang participant sebelumnya untuk membandingkan penggunaan statis vs interaktif. Agak tricky juga pada pembuatan survey ini. Selain terkait metode penyajiannya (di medium seperti apa), metode penyampaiannya lebih tricky lagi. Saya tidak mau membuat pertanyaan yang menggiring participant ke salah satu jawaban, misal pertanyaan yang secara tidak langsung berpihak ke pada statis atau interaktif.

Untuk mediumnya, awalnya saya bingung apakah akan menggunakan typeform seperti biasa, atau service yang lain. Hal ini dikarenakan, gambar yang diupload di typeform otomatis diresize sampai ke sekitar 700px lebarnya, begitu juga dengan google form. Saya sempat menemukan service lain yang menarik, dalam artian sesuai dengan kebutuhan (mungkin) dan yang paling penting free! Salah satunya adalah UsabilityHub.

Menarik sekali, karena sesuai dengan test saya kali ini (gambar statis). Mereka juga menyediakan 5s, preference, click, dan nav flow test. Lengkapnya bisa dicek langsung di webnya. Tapi, ujung-ujungnya saya kembali menggunakan typeform. Karena saya memiliki beberapa gambar yang ingin ditest, dan somehow sembari melihat gambar, saya ingin mereka membandingkan dengan versi interaktif dan mengisi jawaban.

Solusi terkait gambar yang diresize, sangat manual, saya upload gambar di dropbox dan menyediakan link ke gambar tersebut pada setiap pertanyaan yang berhubungan

Sore harinya, pertanyaan sudah beres dan langsung disebar ke participant. Malamnya dilanjutkan dengan rutinitas transcribe, seperti biasa InqScribe saya gunakan untuk membantu.

25.3.2015

Chunks:

  1. Rancang case study baru, bandingin dengan static image
  2. Cek time, success rate, hasil interview
  3. Cek hasil survey, kalau sudah beres, masukkan ke laporan

Pagi harinya, saya langsung melanjutkan proses transcribe untuk 3 participant sembari menunggu jawaban survey dari mereka. Sebelum makan siang, proses transcribenya alhamdulillah sudah beres. Setelah seharian berkutat transcribe dan buat report, alhamdulillah malam harinya sudah beres. Laporan kali ini berjumlah 11 halaman, lumayan ada tambahan satu halaman dengan konten yang lebih padat dan berbobot. Alhamdulillah, puas banget dua hari ini ga pakai acara mager 😀

Sedangkan progress survey sudah hampir semua participant mengisi. Karena sudah tepar, saya akan lanjutkan besok, sembari menunggu data lengkap agar tidak bolak-balik.

26.3.2015

Chunks:

  1. Cek hasil survey, kalau sudah beres, masukkan ke laporan

Sembari menunggu hasil survey lengkap, saya mulai nyicil pembuatan laporan comparison. Inti kontennya kurang lebih sama dengan laporan usability testing:

  • kapan, di mana, link percobaan tersebut dilakukan
  • ringkasan dari laporan (seperti executive summary)
  • tujuan dari percobaan: kali ini untuk menemukan value tambahan dari visualisasi interaktif
  • particpant: jelasin siapa yang jadi participant
  • prosedur: bagaimana percobaan tersebut dijalankan
  • task: apa saja task yang dilakukan oleh participant
  • result: paparkan semua hasilnya
  • pembahasan (kalau mau): jelasin interpretasi dan kalau mau kesimpulan dari hasilnya

Selain itu, karena sudah waktunya untuk menulis buku (*drumroll), saya mulai baca semacam ‘how-to write a great dissertation’. Sebenarnya bukan kebiasaan yang terlalu bagus, jika terlalu lama membaca how-to namun tidak melakukan apa apa. Well, tapi kebiasaan yang agak menantang untuk dirubah. Mungkin, sekarang saya sedang mencari cara agar tidak terlalu lama mencari inspirasi.

Di buku yang saya baca, sempat disinggung beberapa alasan mahasiswa doktoral menunda penulisan disertasi (Saya bahkan masih master dan ini thesis). Namun, alasannya sepertinya sejalan dengan apa yang saya rasakan. Biasanya, kita menunda sesuatu karena takut  atau tidak suka akan kegagalan. Hmm…

Jadi teringat iterasi pertama dimana prototypenya ‘tidak layak tayang’. Salah satu alasan terbesar saya tetap melakukan test adalah tanggung jawab kepada para participant, karena sudah terlanjur membuat appoinment (selain karena kepepet harus lulus tentunya). Mungkin di sini jiwa dari design sprint.

27.3.2015

Chunks:

  1. Buat laporan comparison
  2. Kirim laporan ke pembimbing
  3. Mulai nulis?

Maghrib di hari sebelumnya, survey telah lengkap. Saya mulai menyusun laporan dan mencari cara untuk menyimpulkan dan menyajikan hasilnya dalam format yang enak dilihat. Hal tersebut dikarenakan, surveynya termasuk cukup panjang. (Terima kasih wahai participant atas bantuan kalian)

Paginya, laporan sudah selesai dan dikirim ke pembimbing. Siang harinya beliau membalas, intinya suka dan setuju dengan isi laporan tersebut. Yeah. Terus beliau menanyakan, kapan saya bisa baca teks nya?. Terdiam lagi.

Karena melakukan beberapa iterasi, saya sekarang sedang bingung untuk melaporkan hasil dari iterasi-iterasi tersebut. Lebih enak dipecah tiap chapter per iterasi? atau methods semua iterasi digabung di satu chapter, kemudian results semua iterasi digabung di chapter lain?

Hmm

Beberapa saat kemudian pembimbing menyatakan kalau mungkin opsi pertama lebih enak. Tapi saya agak merasa bersalah karena minta feedback thesis, sedangkan belum nulis apa apa (walaupun iterasi sepertinya sudah cukup).

Step pertama saat nulis, tentunya refer ke dokumen yang pernah dibuat: research proposal dan table of content. Dimana isi dari resarch proposalnya agak ‘ngasal’ dengan bold statementnya ‘belum ada riset di bidang transport visualisation yang memasukkan konteks ke dalam spatial dan temporal’. Ketemu juga dengan timeline yang agak ‘optimis’

timeline
Tampaknya perlu tambah satu kolom, secara Januari kemarin jadinya winter escape

Sedangkan di bawah ini timeline yang lebih ‘realistis’ yang dipresentasikan saat seminar bulan lalu, bismillah semoga dilancarkan.

Update timeline saat bulan lalu
Update timeline saat bulan lalu, Januarinya bolong 😀
Advertisements

One thought on “Thesis Strikes (Week 13)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s