Thesis Strikes (Week 15-19)


Saatnya kembali ke dunia thesis setelah sekitar satu minggu lebih liburan. Post ini adalah kelanjutan dari series yang berisi proses thesis yang sedang saya kerjakan. Detail dan background kenapa post ini dibuat bisa dilihat di post pertama. Sedangkan kelanjutannya bisa dibaca di post-2, post-3, post-4, post-5, post-6, post-7, post-8, post-9 dan post-10.

Biasanya post akan berisi kegiatan dari hari Senin sampai Jum’at/Sabtu/Minggu. Namun, spesial untuk minggu ini, saya akan mulai dari hari Selasa. Hal ini karena hari Senin libur (dan masih terbawa hawa liburan), walaupun kemarin sempat mencoba LaTex untuk menulis dan skimming paper visualisasi.

7.4.2015

Chunks:

  1. Lanjutin baca paper
  2. Coba susun research question untuk direvise
  3. Cek di paper lama term atau objective yang biasanya dicantumkan di paper visualisasi
  4. Mulai nulis introduction

“Satu bulan kemudian”

6.5.2015

Chunks:

  1. Kirim draft ke pembimbing
  2. Kirim draft ke temen2 untuk cek grammar dan spelling

Fiuh *hela nafas
Setelah kurang lebih 30 hari menulis, akhirnya selesai juga draft thesis ini. Ternyata memakan pikiran dan tenaga juga untuk menulis thesis yang “indah” dan flownya smooth. Walaupun ada beberapa aspek yang ga dilanjutkan diskusinya, karena sudah hampir 100 halaman. Kalau bukunya terlalu tebal, selain agak lelah buat dibaca, makin mahal ongkos print nya šŸ˜€

Kali ini saya menggunakan LaTex (akhirnya)! Lebih spesifiknya, menggunakan online editor latex. Karena saat itu pernah menginstall dan mencoba latex di laptop, tapi kurang tertarik karena satu dan lain hal; terlebih lagi waktu itu belum sesuatu yang penting yang harus diketik.

Tapi kali ini saya memutuskan untuk mencoba LaTex, walaupun awalnya karena tidak ada pilihan lain selain Word. Sudah ada beberapa pengalaman kurang menyenangkan dengan Word di laptop saya, salah satunya Word untuk Mac di laptop saya terkadang crash (bayangkan saat sedang ngetik thesis panjang2, belum disave, terus crash).

Selain itu saya agak kesulitan memanage citation di Word. Beberapa kali mengerjakan laporan di Word, citationnya akhirnya digenerate dengan semi manual, karena kurang sesuai dengan rule dari dokumen yang harus disubmit. Belum lagi kalau mau merubah citation stylenya, misal dari APA, ke IEEE, atau ACM. Masalah lainnya adalah management gambar, nyerah kalau yang ini. Citation dan gambar merupakan tantangan yang cukup besar, khususnya untuk saya yang kurang mengerti dan sudah cukup pusing untuk explore feature2 Word, setelah berkutat dengan thesis.

Akhirnya, saya menggunakan Overleaf, salah satu online LaTex editor. Beberapa bulan lalu, teman yang sedang mengerjakan thesis di Tampere juga merekomendasikan ini. Seorang teman yang mengerjakan thesis beberapa bulan lalu juga menyarankan untuk menggunakan LaTex karena kemudahannya.

Workspace dari Overleaf. Di kiri kita bisa memanage file dan folder. Di tengah adalah text editornya dan di kanan adalah preview dari dokumen yang dikerjakan.
Workspace dari Overleaf. Di kiri kita bisa memanage file dan folder. Di tengah adalah text editornya dan di kanan adalah preview dari dokumen yang dikerjakan.

Ternyata awesome! Walaupun agak kebingungan saat pertama kali menggunakan (unfamiliar syntax), tapi setelah beberapa hari akhirnya terbiasa juga. Keunggulan pertama yang saya rasakan adalah chapter thesis bisa dipecah jadi file, nanti kita bisa “include” chapter tersebut di file utama. Gambar gambar juga bisa disusun di satu folder, kemudian tinggal dipanggil di lokasi yang diinginkan.

Keunggulan yang kedua adalah citationnya. Mirip dengan proses include sebelumnya, saya tinggal membuat satu file terpisah untuk menampung semua citation dengan ekstensi .bib. Kemudian di file tersebut, kita bisa memasukan format BibTex yang biasanya sudah siap di export di halaman-halaman publisher. Untuk memanggil citation dalam text, tinggal ketik \cite{key}. Key adalah id dari citation tersebut, gampang kan? Urusan formatting bisa kita set sendiri, bisa APA, IEEE, ACM, atau format citation yang diinginkan.

Selain itu, di online editor ada semacam spell check nya, tidak seperti program LaTex yang diinstal di komputer. Defaultnya tidak ada spell cheker di program bawaan, tapi kita bisa menginstall plugin atau addon untuk fungsionalitas ini.

Walaupun memakan sedikit waktu untuk terbiasa, tapi LaTex sangat powerful dan enak untuk digunakan šŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s